Perspektif – David Hutama

Pendidikan arsitektur, sebagai salah satu titik dalam proses pembentukan seseorang untuk menjadi seorang arsitek adalah salah satu aspek yang kerap kali dikupas dan diperdebatkan. Apalagi sejak pendidikan Arsitek berubah menjadi pendidikan arsitektur – dari vokasional menjadi kesarjanaan. Perubahan ini mengakibatkan dinamika yang tajam dan cepat antara dunia pendidikan dan dunia profesi, yaitu Arsitek. Mencari titik awal perjalanan seorang arsitek adalah sebuah tantangan. Pada titik manakah perjalanan itu dimulai? Sejak dimulainya pendidikan arsitekturkah? Atau pada saat kelulusan? Atau pada saat ia memutuskan untuk berpraktik sebagai arsitek? Catatan pendek ini bermaksud memberikan konteks dinamika hubungan antara pendidikan arsitektur dan profesi arsitek guna mengundang refleksi bersama bahwa ternyata titik awal adalah titik yang dinamis bergerak sesuai dengan konteks jaman.

Membicarakan dinamika pendidikan arsitektur dan profesi arsitek di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peperangan, perubahan kebudayaan dan perkembangan teknologi yang terjadi di dunia. Konsekuensi dari perang adalah hancurnya infrastruktur dan fasilitas-fasilitas publik. Memulihkan fasilitas-fasilitas ini membutuhkan tenaga ahli yang bisa bekerja secara efisien dan melakukan optimasi kebutuhan. Perkembangan budaya dan teknologi seperti revolusi industri di Eropa di awal abad ke-20 – kehadiran industri manufaktur dan material seperti besi, beton dan kaca [1], revolusi kebudayaan yang terjadi di tahun 1960-an – kebangkitan kembali perspektif humanis yang dipelopori oleh para teoris dari Mazhab Frankfurt, sampai saat ini di mana teknologi dan budaya terajut begitu erat dalam era digital saat ini – dari pemahaman akan geometri dan olah geometri dengan kerumitan yang berbeda – seperti yang diusung oleh Deleuze dan Guattari, Bernard Cache, dan Mario Carpo- membawa perubahan terhadap pendidikan arsitektur dan profesi arstiek sendiri.

Dalam sejarah arsitektur, kita bisa menelusuri bahwa peperangan adalah salah satu pemicu signifikan dalam dinamika arsitektur dan berarsitektur. Jean-Nicolas-Louis-Durand dalam The Précise des leçons d’architecture données a l’École Polytechnique (Catatan kuliah arsitektur di Ecole Polytechnique) merumuskan satu model pendidikan arsitektur yang baru[2]. Rumusan ini secara tidak langsung adalah kritik dan pengembangan dari tulisan Jacques-Francois-Blondel dalam Cours d’ Architecture (Kursus arsitektur) yang diberikan di akademi Arsitektur[3]. Rumusan Durand, yang menekankan pada sistem daripada pada pemahaman dan kejelian pada detil-detil dekoratif, banyak berpengaruh pada pendidikan arsitektur di Eropa di akhir abad ke-19.
Berlanjut dari hal tersebut, di awal abad ke-20, perkembangan teknologi besi, kaca, dan kemajuan manufaktur kembali mengubah dinamika pendidikan arsitektur dan profesi arsitek. Bauhaus (1919-1929) yang pro teknologi dan Hochschule für Gestaltung Ulm (1950-1968) yang humanis adalah salah satu wujud reaksi dari perkembangan ini[4]. Perang Dunia I (1914-1918) dan Perang Dunia II (1939-1945) lagi-lagi membuat Eropa luluh lantah. Para arsitek, seperti Le Corbusier dengan CIAM-nya (1928-1959) dan Team 10 (1953-1981), berkumpul dan menggagas ide-ide utopia untuk memulihkan rumah tinggal dan fasilitas publik. Perang Dunia II berkontribusi pada kemajuan teknologi komputasi untuk medan metode perencanaan dan perancangan.
Saat ini pendidikan arsitektur dan profesi arsitek jauh lebih rumit. Jean Oackman menyatakan bahwa kerumitan yang digarisbawahi oleh Robert Venturi dan Dennis Scott Brown tahun 1966 dalam Complexity and Contradiction in Architecture tidak bisa menjadi model untuk menjelaskan kerumitan saat ini[5]. Kecepatan pergerakan zaman berkali lipat lebih cepat. Peran arsitek tidak lagi sesederhana ilustrasi Plato tentang Demiurgos dalam Timaeus sebagai sosok yang otonom. Arsitek saat ini sangat bergantung pada banyak hal. Kapitalisme, kondisi sosial, situasi politik, ekonomi, globalisasi, teknologi, dan hal-hal lainnya yang sedikit atau banyak turut menentukan perkembangan arsitektur. Kerumitan saat ini adalah pergerakan dunia jauh lebih cepat daripada pergerakan perangkat-perangkat kemanusiaan yang kita miliki.
Di Indonesia, konteks pendidikan arsitektur dan profesi arsitek tidak bisa tidak bersentuhan dengan pengaruh pengajaran arsitektur ala The Precise dari Durand. Ignasi de Sola-Morales dalam tulisannya “The Origins of Modern Eclecticism: The Theories of Architecture in Early Nineteenth Century France” menjelaskan bahwa pengaruh Durand terhadap pola pengajaran arsitektur di Eropa pada akhir abad ke-19 sampai abad ke-20 sangat kental (de Sola-Morales, 1987). Kehancuran akibat perang yang melanda Eropa membuat pendidikan arsitektur-insinyur ini sebagai pola yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan jaman. Dua politeknik yang dibuka dan kemudian berpengaruh pada sejarah pendidikan arsitektur di Indonesia adalah Politechnische School van Delft (1864) yang kemudian menjadi TU Delft – almamater dari Thomas Karsten dan Maclaine Pont dan Koninklijke Militaire Academie di Breda – almamater dari C.P. Wolff Schoemaker, arsitek belanda yang kemudian menjadi guru besar dan rektor di Technische Hoogeschool te Bandung (sekarang ITB).

Sebelum dimulainya pendidikan arsitektur (Bouwkunde) di Universitas Indonesia Cabang Bandung (saat ini ITB) di tahun 1950, BOW (Departemen Pekerjaan Umum pada masa kolonial) telah memulai pelatihan ahli bangunan untuk membantu pembangunan kota-kota kolonial. Salah satu arsitek lulusan pelatihan BOW ini adalah F. Silaban.
Pendirian organisasi IAI di tahun 1955 oleh para lulusan pendidikan arsitektur adalah tonggak penting dalam sejarah profesi arsitek di Indonesia. Pada saat itu pendidikan arsitektur masih kental mengacu sebagai pendidikan yang kental pada keteknikan, selaras dengan kebutuhan ahli bangunan yang tinggi untuk pembangunan kota-kota di Indonesia. Di tahun 1960-an, Soejoedi sebagai ketua jurusan arsitektur ITB mencoba mengembangkan jurusan arsitektur di Indonesia. Beberapa lulusannya yang kemudian membuka sekolah-sekolah arsitektur baru di Indonesia adalah: (alm) Parmono Atmadi di Universitas Gajah Mada, (alm) Herman Seodjono di Institut Teknologi Sepuluh Nopember dan (alm) Sidharta di Universitas Diponegoro, Semarang. Beberapa jurusan arsitektur baru ini masih mengikuti kurikulum dan cara pengajaran dari ITB yang masih kental dengan pendidikan arsitektur di TU Delft, Belanda.

Selanjutnya, diterbitkannya Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional (Nomor 2 Tahun 1989) dan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa telah mengubah dinamika pendidikan arsitektur dan profesi arsitek yang sebelumnya selaras. Dua peraturan ini memberikan peta baru pendidikan tinggi di Indonesia dengan mencanangkan adanya program magister dan doktoral juga mengubah lamanya pendidikan kesarjanaan (waktu tempuh minimal) dari lima tahun menjadi empat tahun. Perubahan ini berpengaruh pada tekanan dan pencapaian dalam pendidikan arsitektur tersebut. Pendidikan arsitektur yang mulanya dikembangkan sebagai pendidikan keteknikan dan keterampilan praktis menjadi tidak pas dan sesuai lagi dengan konsep pendidikan yang baru dicanangkan oleh pemerintah ini. Pendidikan arsitektur menjadi pendidikan yang berbasis skolastik (kesarjanaan) dan dianggap sejajar dengan pendidikan tinggi disiplin lain. Konsekuensi langsung dari hal ini adalah dinamika baru antara pendidikan arsitektur dan profesi. Bila awalnya lulusan pendidikan arsitektur seakan langsung siap kerja, setelah peraturan ini terbit, peralihan ini menjadi tidak semulus itu lagi.

Walau ini bukan berarti kemunduran – karena sebetulnya secara sistem, konsep pendidikan ini lebih berlaku universal di dunia termasuk dalam pendidikan arsitektur dan arsitek – kegagapan jelas terjadi di antara pendidikan arsitektur dan profesi arsitek. Pendidikan arsitektur bertujuan mengembangkan ilmu arsitektur. Profesi arsitek adalah lulusan dari pendidikan arsitektur yang hendak mengamalkan ilmunya sebagai ahli perencana dan perancang ruang. Dengan kata lain, arah dan hakikat pendidikan arsitektur kini tidak lagi hanya mengenai keprofesian, melainkan pada keilmuannya.
Sketsa tentang dinamika hubungan pendidikan arsitektur dan arsitek ini bertujuan untuk memberikan latar konteks dan titik refleksi dari pameran Titik Awal ini. Titik awal dalam perjalanan seorang arsitek ternyata sangat erat dengan pergerakan zaman. Tuntutan dan kebutuhan yang berbeda melahirkan konsepsi dan definisi pendidikan arsitektur dan profesi arsitek yang berbeda pula. Saat ini mungkin titik awal perjalanan seorang arsitek bukan lagi ditentukan oleh kapan dia memulai pendidikan aristektur, kapan dia lulus, atau kapan dia mulai membuka praktik mandiri melainkan titik di mana ia secara sepenuh hati mengambil sikap untuk tulus mengamalkan ilmu arsitekturnya demi kepentingan orang banyak.

Referensi

de Sola-Morales, I. (1987). The Origins of Modern Eclecticism: The Theories of Architecture in Early Nineteenth Century France. Perspecta, 23, 120-133. doi:10.2307/1567112
Durand, J. N. L., Picon, A., & Britt, D. (2000). Précis of the Lectures on Architecture: With Graphic Portion of the Lectures on Architecture: Getty Research Institute.
Frampton, K. (2002). Labour, Work and Architecture: Phaidon Press.
Picon, A. (2010). French Architects and Engineers in the Age of Enlightenment: Cambridge University Press.

[1] Crystal Palace (1851) karya Joseph Paxton adalah sebuah manifesto dari kehadiran teknologi baru – manufaktur, kaca,besi, dan beton – dan perannya yang tak terelakan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak arsitek dan teoris kemudian bereaksi dan mengusulkan pandangan-pandangan baru terkait dengan revolusi industri ini seperti “Towards New Architecture” (1923) dari Le Corbusier, “Building in France, Building in iron, Building in Ferroconcrete” (1928) oleh Sigfried Gideon, sampai essay “The New Brutalism” (1955) dari Reyner Banham.
[2] Berbeda dari apa yang telah dirumuskan oleh Francois Blondel yang banyak menekankan pada detil-detil dekoratif, Durand dalam posisinya sebagai profesor arsitektur di l’Ecole Polytechnique (1787-1833) berpendapat beda. Bahwa visi dan misi dari sosok arsitek bukan pada estetika belaka tapi pada fungsi dan efisiensi. Kuliah-kuliahnya yang dibukukan dalam The Précise des leçons d’architecture données a l’École Polytechnique ini berisikan satu sistematika baru dalam pengajaran arsitektur di l’ecole polytechnique yang menekankan pada sistem perancangan daripada olah konstruksi dan detil. Kuliah-kuliahnya ini kemudian dalam 2 volume dan 1 volume untuk lampiran gambar-gambar dan diagram-diagram. (Durand, Picon, & Britt, 2000)
[3] Jacques-Francois Blondel ditunjuk sebagai direktur pertama Academie d’Architecture oleh Jean-Baptiste Colbert (1619-1683), Menteri Keuangan pada masa kekuasaan Raja Louis XIV. Materi kuliah Blondel yang dikumpulkan dalam 11 volume berjudul Cours d’ Architecture berperan penting dalam sejarah pendidikan arsitektur. Kumpulan kuliahnya adalah upaya awal dalam menbuat satu sistematika pengajaran arsitektur secara formal dari sebelumnya hanya berupa pelatihan-pelatihan belaka. Blondel menekankan aspek kepekaan estetika – pemahaman skala-proporsi, komposisi, dan ketrampilan menggambar perspektif. (Picon, 2010)
[4] (Frampton, 2002)
[5] Hal ini dinyatakan oleh Joan Oackman dalam sebuah seminar yang diselenggarakan oleh program History & Critical Thinking di Architectural Associtaion School of Architecture, London pada tanggal 24 November 2016.