Pemetaan Pendidikan Arsitektur di 2018

Titik Awal di tahun 2018 adalah penemuan rekam jejak pendidikan arsitektur dalam rentang waktu 1958-1999 yang didapatkan dari diskusi dengan Yuswadi Saliya, Abidin Kusno, Johannes Widodo, Nanda Widyarta, dan penelusuran arsip kurikulum di Insititut Teknologi Bandung, serta Universitas Indonesia. Proses penelusuran ini tidaklah mudah karena keterbatasan informasi, namun pameran ini menggarisbawahi 3 buah temuan: Pertama, bagi mahasiswa, ia adalah tanggung jawab atau pembuktian, tentang apa itu arsitektur yang dipahaminya selama kuliah. Kedua, bagi pengajar, ia dapat menjadi eksperimen metodologi dan pedagogi pengajaran. Ketiga, bagi institusi, ia adalah cerminan sistem kurikulum yang diterapkan. Sedangkan bagi profesi, ia menjadi instrumen penilaian kompetensi sarjana baru yang sedang mencari pekerjaan.

Kompleksitas ketiga elemen ini mewarnai kemajemukan makna Tugas Akhir.

Di tengah pasang surut pendidikan sepanjang empat dekade tersebut, terdapat 12 calon arsitek yang sedang menjalani Tugas Akhirnya. Sebutan jurusan arsitektur muncul untuk pertama kalinya dalam pendidikan sarjana di Indonesia pada tahun 1957, ketika Fakultet Teknik Universitet Indonesia di Bandung – yang kemudian berubah nama menjadi ITB – mengubah Bagian (fakultas) Bangunan menjadi Bagian Arsitektur dan Seni Rupa. Sedangkan Tugas Akhir baru muncul satu tahun setelahnya, di tahun 1958, ketika seksi Arsitektur melakukan pergantian kurikulum seperti yang terjadi di Delft, dengan membebaskan tingkat terakhir dari kuliah dan mengisinya dengan tugas perencanaan atau proyek-proyek besar yang isinya merupakan paduan dari semua mata kuliah yang telah diberikan sebelumnya.[1]

Kebutuhan akan arsitek yang cakap untuk pekerjaan pembangunan di masyarakat menjadikan tujuan ITB pada saat itu berfokus pada dua keterampilan, seni dan teknik mengolah bangunan, sebagaimana diungkapkan oleh Prof. V. R. Van Romondt [2] dalam wisuda angkatan pertama di ITB:

“Arsitek yang sejati yang merupakan seniman berpengetahuan insinyur dan insinyur yang berjiwa seniman, akan mahir mendasarkan bentuk-bentuk yang ia ciptakan kepada tiga tiang, ialah jiwa, materi, dan kenyataan.”[3]

Pandangan ini tercermin pula pada kurikulum ITB 1950-1958, mengenai hal-hal penguasaan teknik konstruksi dan bahan dalam menciptakan bentuk. Pada risalah pengantar kurikulumnya, tertulis jika mahasiswa di dalam masa pendidikan sarjananya harus mendapatkan pengetahuan yang cukup dalam bidang ilmu pasti dan mekanika agar mampu memecahkan persoalan teknis dan fisik bangunan. Sedangkan latihan menggambar tangan, membuat garis, disertai dengan peluasan daya membayangkan sesuatu juga sangat diperlukan untuk mendapatkan pengetahuan estetis yang cukup, sehingga harus dibayangkan adanya bakat dan minat untuk kesenian.[4]

Kompleksitas kompetensi tersebut turut dilengkapi dengan kesempatan praktik yang dibuka oleh Bung Karno untuk pengerjaan proyek-proyek mercusuar di ibu kota. Mahasiswa terlibat langsung sebagai arsitek di lapangan mulai dari tahap awal pengerjaan hingga pembangunan. Oleh sebab itu, sepanjang dekade 50 hingga 60-an, rata-rata mahasiswa menyelesaikan tahap sarjana dalam rentang waktu 5 hingga 8 tahun. Kesempatan belajar dan praktik yang sangat intensif seperti itu belum pernah terulang lagi dalam sejarah pendidikan sarjana arsitektur di Indonesia, hal ini juga membuat sarjana di dekade 60-an dicap sebagai generasi arsitek yang siap kerja karena kematangan akan keahlian yang dapatkan dari proses pelatihan yang panjang baik di bangku kuliah maupun dunia kerja. Yuswadi Saliya, lulusan ITB dekade 60-an yang menikmati masa-masa akademik yang berjalan paralel dengan praktik, ia terlibat langsung ke dalam proses desain hingga konstruksi gedung Conefo selama 2 tahun, hingga akhirnya menawarkan tipologi baru yang melengkapi apa yang belum dimiliki kompleks Conefo ke dalam Tugas Akhirnya. Proyek Tugas Akhir Yuswadi adalah Cultural Center Conefo, dengan teknik presentasi yang fokus pada permutasi format teater dengan menggambar banyak varian denah secara manual. Alih-alih tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, 8 tahun ia dedikasikan hanya untuk menempuh pendidikan S1.

Sepanjang dekade 60 hingga 70-an, wajah pendidikan diwarnai dengan tumbuhnya berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di kota-kota besar, seiring dengan roda pembangunan yang mulai berjalan serta melonjaknya jumlah lulusan SMA. Sejak tahun 1963, sekolah arsitektur telah ditangani sepenuhnya oleh tenaga pengajar orang Indonesia, selepas kepulangan secara berangsur-angsur para dosen asing ke negerinya sejak tahun 19555. Pemerintah kemudian membuka banyak jurusan arsitektur baru.[5] Sebagian besar lulusan ITB tersebar sebagai staff pengajar di kampus-kampus tersebut dengan membawa kurikulum yang sama dengan yang diterapkan di ITB ditambah sedikit penyesuaian bagi masing-masing kampus.[6]

Surat Keputusan Menteri P dan K nomor 0124/U/1979 menuntut pembaharuan jenjang dan program tinggi, serta penggunaan kredit semester dengan pengaturan standar beban dan masa belajar untuk setiap jenjang dan jenis program secara lebih jelas dan terarah.[8] Dampaknya terhadap mahasiswa arsitektur sendiri, yang semula tidak terbebani oleh batas waktu studi, kemudian harus menyelesaikan kuliah lebih cepat. Pendidikan arsitektur tidak lagi selaras dengan praktik. Sebagian besar kampus melakukan penyesuaian diri, meskipun berlangsung dalam jangka waktu lama. Di awal perubahannya, jumlah mata kuliah dipadatkan dengan cara penggabungan beberapa mata kuliah yang serumpun, serta penghilangan beberapa mata kuliah yang dinilai tidak esensial bagi masing-masing kampus. Perubahan ini masih berupa penyesuaian minor, yang umumnya berupa efisiensi terhadap bobot kurikulum lama tanpa mengubah orientasi pendidikan secara fundamental.

Irianto Purnomo Hadi dan Yori Antar, dua orang mahasiswa pemberontak di tengah kegamangan kurikulum UI tahun 80-an, baik di bangku akademik maupun di luar. Bersama mahasiswa lainnya, mereka aktif menerbitkan majalah architrave yang disebar ke seluruh kampus di Jakarta dan Bandung. Gerombolan ini lah yang kemudian menjadi cikal bakal Arsitek Muda Indonesia. Selain itu, pada gambar Tugas Akhir Irianto yang versi tidak lolos sidang akhir, terdapat goresan garis yang keluar dari kop gambar yang dibuat sesuai ketentuan, sebagai usaha nakalnya untuk melawan kekakuan tata tertib Tugas Akhir di UI. Rancangannya pun ditolak mentah-mentah karena dinilai merusak lingkungan kawasan pusaka. Sedangkan Yori, sebagai anak dari arsitek juga dosen di UI, ia mendapatkan akses referensi yang luas. Ia memilih untuk mengerahkan segala ambisi dirinya ke dalam gambar Tugas Akhir, dengan gambar ulang preseden tempat-tempat yang pernah dikunjunginya, juga gambar tangan diagram yang mempertegas alur berpikirnya. Tak jarang ia harus mengunci kamarnya atau terpaksa berdebat di meja makan dengan ayahnya sendiri terkait rancangan Tugas Akhirnya.

Masih di dekade yang sama, Jimmy Priatman dan Abidin Kusno, dua lulusan arsitektur asal Surabaya dari angkatan yang berbeda. Jimmy merancang pusat energi surya pertama yang disusun oleh mahasiswa arsitektur Indonesia di tahun 1981, sehingga untuk mendapatkan akses referensi ia harus melakukan penelitian mandiri ke laboratorium dan pakar sains. Sedangkan Abidin adalah seorang mahasiswa yang sejak di S1 sudah tertarik pada hal-hal filosofis dan konseptual di luar bentuk formal arsitektur sebagai bangunan. Oleh karena itu, ia memilih tipologi bangunan ibadah di Tugas Akhirnya tahun 1984. Struktur studio yang sistematis, ragam mata kuliah wajib di tiap semester, serta kapasitas dosen pengajar yang ahli di tiap bidang mendukung dirinya untuk bisa memilih jalan yang ia minati hingga hari ini.

Muhammad Thamrin dan Achmad D Tardiyana (Apep) berada di satu generasi yang sama, ITB angkatan 1980-an. Penerapan Tahun Pertama Bersama, waktu tempuh masa kuliah 4,5 tahun, dan kepulangan beberapa dosen setelah mengambil magister di luar negeri melatar belakangi kurikulum ITB kala itu. Thamrin terpapar pada isu mengenai post-modernism semasa kuliah melalui bacaan-bacaan di sekitarnya, juga aktif pada kegiatan akademik yang berhubungan dengan konservasi, topik yang diangkat pada Tugas Akhirnya, sekaligus bidang yang ditekuninya hingga kini. Sedangkan Apep mencoba menyandingkan wawasan baru pada zaman itu dengan pendekatan lokalitas. Ia melakukan “penenggelaman” terhadap museumnya melalui teknik crop-and-fill untuk mempertahankan aksis tapak dan menjaga pengalaman ruang Candi Prambanan tidak terganggu oleh bangunanya. Apep melihat bahwa wawasan post-modernism yang didapatkannya membantunya menentukan sikap dalam perancangan, yang selalu bersifat kontekstual.

Di samping itu, Johannes Widodo menjadi aktivis kampus melawan pemerintahan rezim orde baru pada peristiwa Malari di tahun 1978 [9], hingga menyita waktu akademik selama satu semester. Meskipun demikian, ia tetap menyelesaikan Tugas Akhirnya selama 5 tahun, sebuah prestasi langka yang dapat dilakukan oleh rekan sebayanya. Ia juga menjadi produk kurikulum lama yang belum mengenal sistem Satuan Kredit Semester (SKS), yang mana untuk dapat naik ke tingkat berikutnya harus dipastikan tidak ada satu mata kuliah pun yang tidak lulus dalam satu tahun. Pendekatan cara merancangnya pun masih sangat rasional dan kental dengan logika teknis. Pada Tugas Akhirnya yang berjudul Gedung Kesenian di Kota Bogor tahun 1984 ia menekankan analisis tapak dan pemrograman ruang, yang dibuat dengan mesin ketik dan gambar manual pada laporan seminar di semester sebelumnya, juga mencuri waktu liburan sebelum Tugas Akhir dimulai.

Kondisi yang sama berlangsung hingga dekade 80 hingga 90-an, ditambah dengan terbukanya arus informasi dan referensi melalui forum-forum diskusi, media publikasi, dan literatur buku. Postmodernisme menjadi perbincangan hangat sehari-hari, baik di kalangan mahasiswa maupun dosen. Pada level nasional, terjadi beberapa kongres untuk menyoroti hubungan antara arsitektur dan budaya yang spesifik kepada ke-Indonesia-an.[10] Dualisme di kalangan dosen-dosen penganut paham modern dan postmodern di tengah kebuntuan kurikulum berlarut hingga tahun 1990-an, yang akhirnya menimbulkan kejenuhan di kalangan mahasiswa sendiri. Pengurangan bobot beban studi yang ada tanpa disertai perubahan visi jelas hanya mengurangi kompetensi sarjana arsitek saja. Perguruan tinggi perlahan-lahan harus mengubah orientasi pendidikannya, yang semula fokus pada keahlian lambat laun bermuara ke arah keilmuannya. Di samping itu, di beberapa kampus mahasiswa justru mencari alternatif baru untuk berkarya di luar aktivitas akademik.

Pada generasi 90-an diwakili Yu Sing, Nelly Daniel, Deddy Wahyudi, dan Daniel Sandjaja. Ketiganya ada di era transisi arus informasi, teknologi, dan keragaman bidang disiplin baru yang dibawa oleh dosen-dosen yang baru pulang meraih gelar magister dan doktoral di luar negeri. Di tengah keterbatasannya dalam membayangkan geometri, Yu Sing bersiasat dengan menggunakan teknik jiplak gambar CAD, dibantu juniornya, ke medium kalkir untuk gambar perspektif rancangan Tugas Akhirnya di tahun 1999. Sama halnya dengan Nelly Daniel, ia merasa lebih nyaman menggunakan gambar manual untuk tipologi bangunan resort yang dibuatnya pada tahun 1998, namun juga dengan sedikit bantuan komputer sebagai garis bantu perspektifnya. Sedangkan Deddy Wahjudi, untuk rancangan museum Istiqlalnya di tahun 1996, menggunakan pendekatan aksis-aksis imajiner dalam merancang. Ia juga terpukau pada kecanggihan teknologi 3D komputasi saat itu, sehingga beberapa sudut perspektif bagian bangunan sengaja dibuat mendetail dengan bantuan piranti lunak 3D. Daniel Sandjaja ada di generasi awal tahun 1995 saat pengerjaan Tugas Akhir, sebagai salah satu mahasiswa berbakat di eranya. Ia melakukan eksplorasi pada medium presentasinya, dengan menggunakan maket, cetak foto, kolase gambar, mozaik, dan medium gambar lainnya.

Mempelajari apa yang telah dilakukan oleh para peserta pameran pada Tugas Akhir sepanjang dekade 1960 hingga 1990, terlihat bahwa wajah pendidikan tidak hanya dibentuk oleh seberapa mutakhirnya sistem pendidikan dan tenaga pengajar yang ada. Namun juga bagaimana mahasiswa berperan menghadapi dinamika di dalam Tugas Akhirnya. Dengan kesungguhan mereka merespon konteks yang ada, bersiasat, yang pada akhirnya – disadari atau tidak – memberi warna baru pada perjalanan pendidikan arsitektur di Indonesia. Proses yang telah dilalui oleh para peserta pameran adalah hal yang biasa saja, namun menjadi penting karena Tugas Akhir menjadi pertemuan, antara mereka yang telah belajar dengan sungguh-sungguh, dengan mereka yang membentuknya, yakni pengajar dan kurikulum. Tugas Akhir arsitektur adalah kurun waktu di mana calon arsitek untuk pertama kalinya meluangkan waktu dan tenaga sebesar mungkin untuk pertama kali sebagai sosok yang visioner yang mencoba mengamalkan ilmu dan ketrampilannya dalam bentuk gagasan bagi masyarakat yang lebih luas.

 


Catatan kaki:

[1] Rangkuman Ir. Suparti A. Salim dalam kongres 35 tahun pendidikan sarjana arsitektur di Indonesia.
[2] Prof. V. R. Van Romondt adalah kepala jurusan pertama jurusan arsitektur di ITB hingga tahun 1962. Ia juga turut aktif di dinas purbakala sebagai peneliti kawasan trowulan dan candi prambanan.
[3] Ibid.
[4] Direktori mahasiswa ITB tahun 1993 dalam Peladjaran Untuk Insinjur Bangunan Atau Arsitek hal. 11.
[5] Konflik politik akibat Irian Barat, antara pemerintah RI dengan kerajaan Belanda pada tahun 1954/1955 memaksa orang Belanda, termasuk staff pengajar Fakultas Teknik UI, meninggalkan Indonesia.
[6] Beberapa perguruan tinggi negeri di antaranya Universitas Gajah Mada di Yogyakarta (1962), Universitas Diponegoro di Semarang (1962), Universitas Indonesia di Jakarta, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (1965), dan Universitas Udayana di Bali (1965). Sedangkan perguruan tinggi swasta di antaranya UNPAR (1960), Universitas Tarumanegara (1962), Universitas Pancasila dan UKI (1964), Universitas Trisakti (1967).
[7] Abidin Kusno, Postcolonial Traditionality, Tu Delft, Delft, 2017, p15
[8] Untuk program S1 diterapkan beban studi dengan sistem SKS minimal 144 SKS dan maksimal 160 SKS, yang dapat ditempuh 4 hingga 7 tahun. Di ITB, waktu perkuliahan yang semula ditempuh selama 5 tahun, pada tahun 1973 dijadikan 4 tahun. UGM melaksanakan peraturan tersebut pada 1963, Universitas Hasanudin 1974, UK Petra 1975.
[9]Pada bulan Januari hingga Februari 1978 Menteri P dan K Sjarief Thajeb mengikuti perintah Kopkamtib untuk membubarkan DM ITB (1977-1978) akibat keluarnya pernyataan mahasiswa pada 16 Januari 1978 yang menyatakan tidak setuju jika kursi presiden diduduki dua kali berturut-turut oleh orang yang sama. Di depan kampus ITB terpampang jelas spanduk yang dibuat mahasiswa: tidak berkehendak dan tidak menginginkan pencalonan kembali Jenderal Purnawirawan Soeharto sebagai Presiden RI. Bersamaan dengan penolakan itu, mahasiswa mengeluarkan “Buku Putih Perjuangan Mahasiswa 1978”. Penguasa secara resmi melarang Buku Putih itu, juga melakukan pembubaran pada Dewan Mahasiswa lainnya seperti Universitas Parahyangan, Universitas Padjajaran, dan IKIP Bandung. (dirangkum dari: https://socio-politica.com/2010/04/06/pendudukan-kampus-1978-luka-ketiga-dalam-hubungan-mahasiswa-tentara-3/; diakses tanggal 5 Januari 2018).
[10] ‘Arsitektur Tradisional’ (Jakarta, Desember 1981); ‘Menuju Arsitektur Indonesia (Yogyakarta, Desember 1984); ‘Peran Identitas Budaya di Indonesia (Jakarta, September 1984); ‘Arsitektur Tradisional Indonesia (Januari 1986). Beberapa pertanyaan yang diajukan di dalam kongres antara lain, apakah tradisi milik masa lampau? Dapat kah ia digali di era postkolonial sebagai basis untuk membangun arsitektur Indonesia? Bagaimana sebaiknya “arsitektur Indonesia” diperiodesasi? Perlukah memasukan era kolonial sebagai salah satu penemuan tradisi orang Indonesia? Apakah tradisi dan modernitas cukup relevan untuk pemikiran arsitektur Indonesia? Apakah tradisi menawarkan strategi arsitektur di masa depan? Kongres arsitektur nasional tahun 1982 menutup pertemuannya dengan sebuah deklarasi, “Sebagai usaha untuk membantu pembangunan nasional dan pengembangan kebudayaan, maka pengembangan arsitektur Indonesia menjadi kebutuhan, baik secara konseptual dan substantif, sebagai totalitas arsitektur.” (Kusno, 2017).