Mencari Titik Awal di 2017

Pameran “Titik Awal” merupakan studi rekam jejak 18 arsitek Indonesia yang dilakukan oleh OMAH Library. Ada tiga tahapan yang dilalui oleh setiap arsitek dalam mencapai kematangan proses berarsitektur, pertama expendient atau proses pembentukan, kedua alchemy atau proses relasi, dan ketiga experiment atau tahap eksplorasi. Observasi yang kami lakukan terhadap beberapa arsitek seperti Thom Mayne, Frank Gehry, Zaha Hadid, Tom Kundig, Laurie Baker, Norman Foster, Antoni Gaudi, Frei Otto, Samuel Mockbee, dan lain-lain menunjukan bahwa mereka menghabiskan satu sampai tiga dekade dalam berproses. Waktu tersebut menunjukkan kematangan dalam berproses yang ditandai dengan apresiasi, penghargaan, dan pengakuan akan karya arsitekturnya. Namun demikian, selalu ada satu titik awal yaitu proyek Tugas Akhir.

Pada proyek Tugas Akhir, tingkat pemahaman ilmu arsitektur,yang telah dipelajari selama kuliah diuji. Dalam proses desain muncul keragaman dan perbedaan cara pikir antara satu orang dengan orang lainnya. Hal ini menjadi salah satu faktor yang membentuk karakter setiap calon arsitek dan cara pandang mereka terhadap arsitektur sebagai sebuah disiplin.

Pameran Titik Awal memposisikan diri sebagai alat baca dinamika yang terjadi pada subjek dan objek Tugas Akhir di kurun waktu dua dekade setelah tahun 1980. Hal ini kami lakukan dengan menggunakan medium produk Tugas Akhir dan dokumentasi wawancara dengan 18 arsitek generasi baby boomer dan generasi X. Dari observasi kami, ada tiga hal yang mempengaruhi dinamika Tugas Akhir di periode tersebut, yakni kurikulum pendidikan, tenaga pengajar, dan keadaan perekonomian Indonesia yang berpengaruh pada kesempatan bekerja para lulusan arsitektur di kala itu.

Pertama, kurikulum pendidikan tinggi di Indonesia mengalami perubahan di tahun 1989 dan 2000 dengan berkurangnya jumlah sks mata kuliah yang ada. Akibatnya, beberapa kampus melakukan penyesuaian dengan beragam cara; bisa dengan menambah beberapa mata kuliah atau membuka beberapa pilihan mata kuliah baru. Seperti yang dialami oleh Setiadi Sopandi, misalnya,di Universitas Parahyangan, posisi Tugas Akhir yang sebelumnya sangat prestisius bagi mahasiswa akhirnya dipecah menjadi skripsi dan Studio Akhir Arsitektur. Kesempatan ini mengakomodasi minat-minat mahasiswa yang ingin membedah topik lain yang spesifik di luar perancangan arsitektur.

Kedua, pada pertengahan 80-an hingga pertengahan 90-an, sedikit perubahan terjadi pasca banyak generasi baru arsitek dan tenaga pengajar arsitektur yang kembali setelah bekerja atau belajar di luar negeri. Kepulangan mereka memberikan warna baru pada pedagogi, kurikulum dan topik mata perkuliahan yang ada sebelumnya.[1]

Ketiga, akhir tahun 90-an krisis moneter melanda Indonesia. Beberapa lulusan jurusan arsitektur  mencari alternatif lain untuk berkarya, baik terjun ke bidang lain atau mengambil jenjang pendidikan lanjutan S2. Kepulangan mereka setelah itu memberi warna baru bagi profesi arsitektur di Indonesia. Ada yang bertahan menjadi arsitek, ada yang terjun di dunia perancangan kota, dan ada yang memilih untuk aktif sebagai akademisi.

Di dalam pameran Titik Awal bisa dilihat bahwa dari tahun ke tahun, presentasi produk Tugas Akhir beberapa kampus pun mulai berubah, medium dan teknik presentasi yang semula menekankan aspek keterbangunan berkembang untuk mengakomodasi visualisasi konsep rancangan. Usaha ini didukung dengan berkembangnya teknologi, beberapa di antara para peserta bahkan sudah menunjukan pemanfaatan mesin pencetak dokumen untuk memvisualisasikan konsep mereka.

Achmad Noerzaman dan Andra Matin membuat presentasi dengan denah, tampak, dan potongan, ataupun foto maket, sementara itu Dicky Hendrasto dan Eko Prawoto menambahkan aksonometri sambungan struktur. Sonny Sutanto mengaku ia menjadi mahasiswa yang cukup berbeda ketika ia berusaha menampilkan kertas kalkir yang terkesan kuno, guna mendapatkan kesan “bersejarah” pada Tugas Akhirnya, usahanya dinilai tidak lazim dilakukan pada saat itu.

Sedangkan satu dekade setelahnya, Yandi Andri Yatmo, Ary Indra, Suwardana Winata, Gindo Yamestian, Sibarani Sofian, Tiyok Prasetyoadi, dan Agustinus Susanto membuat gambar diagram konsep untuk memperjelas maksud rancangan. Perubahan ini merepresentasikan dorongan iklim pembelajaran yang semula menekankan aspek keteknisan tentang bangunan perlahan berkembang membicarakan perihal yang konseptual.

Professor Gunawan Tjahjono, Agustinus Sutanto, Sarah Ginting, dan Joe Willendra turut memperkaya pameran dengan karya proyek akhir sewaktu mereka menempuh magister sebagai hasil dari proses pencarian kami dalam mengumpulkan data para arsitek.

Dalam pameran ini, kami menarasikan beragam dinamika tersebut melalui sebuah medium panel ilustrasi gambar yang dilengkapi dengan transkrip dan video wawancara. Hal ini ditujukan supaya pengunjung mudah untuk mencerna proses yang lebih personal di balik produk yang ditampilkan. Lebih jauh lagi, pengunjung juga dapat melihat apa pertimbangan, keputusan, dan spekulasi yang dilakukan oleh delapan belas arsitek ini dalam menentukan perjalanan karir mereka sebelum menjadi sosok yang seperti sekarang.

Pameran titik awal menawarkan metode kuratorial dengan sistem panggilan terbuka yang dilanjutkan dengan wawancara terhadap masing-masing individu. Hal ini dilakukan agar mampu memberikan narasi yang lebih utuh dan personal atas apa yang terjadi di dalam masa pengerjaan Tugas Akhir dari beragam rentang waktu yang berbeda. Dari 18 karya yang masuk kami mengarsipkan 14 karya Tugas Akhir, 1 karya skripsi, dan 4 karya tesis pasca sarjana. Beberapa koleksi asli Tugas Akhir tersebut kami tampilkan dan dokumentasikan di ruang arsip.

Titik awal para arsitek ini adalah satu titik di masa lalu; ia membawa sisi romantis di mana semua arsitek pernah melewati titik ini. Namun lebih dari itu, proses menjalani Tugas Akhir arsitektur adalah kurun waktu di mana calon arsitek untuk pertama kalinya meluangkan waktu dan tenaga sebesar mungkin untuk pertama kali sebagai sosok yang visioner yang mencoba mengamalkan ilmu dan ketrampilannya dalam bentuk gagasan bagi masyarakat yang lebih luas.

Sebagai catatan untuk menampilkan proyek akhir di dalam pencapaian karir arsitek – arsitek ini dibutuhkan kerelaan dari arsitek – arsitek ini untuk berbagi terhadap calon – calon arsitek masa depan Indonesia yang sedang berproses dalam rentang waktu sekarang dan di masa depan, Hal ini ditujukan untuk memberikan pemahaman bahwa proses itu wajar dan biasa – biasa saja dimana semua arsitek yang melewati jenjang sekolah arsitektur pernah melaluinya, sehingga kita bisa mencintai arsitek – arsitek ini seutuhnya dengan memahami bahwa mereka juga pernah ada di posisi kita semua.

[1] Berdasarkan wawancara dengan Tiyok Prasetyoadi, dua orang yang memperkenalkan alur rancang kota ke ranah akademis di ITB pada awal tahun 90-an adalah Profesor Danisworo dan almarhum Tata Soemardi. Mulai dari situ mata kuliah rancang kota menjadi salah satu yang populer di kampus ITB.

OMAH Library