Suwardana Winata

Suwardana Winata lulus mengenyami pendidikan arsitektur di Universitas Tarumanagara, pada tahun 1997 dengan tugas akhir berjudul “Pusat Seni Teater”. Ia melanjutkan pendidikan magister di bidang Arsitektur di Savannah College of Art and Design, AS. Saat ini ia merupakan arsitek prinsipal DSA +s dan pengajar di Universitas Tarumanagara.

Judul Proyek       : Teater Seni

Universitas          : Universitas Tarumanagara

Tipologi                : Teater

Tahun Proyek     : 1997

Lokasi                   : Kuningan, Jakarta Selatan

Teater Seni yang direncanakan di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, memiliki konsep Bagong dari pewayangan tradisional Indonesia. Bagong adalah tokoh bertubuh besar yang bijaksana di antara ketiga temannya yang lain: Petruk, Semar, dan Gareng. Bentuk-bentukan kuartonis dengan satu yang dominan terlihat dari denah, tampak, dan potongan desain yang ia sajikan. Pemintakatan secara horisontal maupun vertikal sangatlah esensial menurutnya untuk menciptakan kualitas ruangan-ruangan. Berbeda dengan mayoritas kawan-kawannya yang memilih bentukan dan metode metaforik (yang sedang hangat dibahas pada masa 1990an), beliau memilih fokus mengolah tapak dari hal yang paling makro (site planning) hingga pendetilan. Suwardana Winata memilih untuk menyajikan konsep melalui aksonometri potongan atau ditarik – yang merupakan hal yang tidak lazim – karena terinspirasi aristek-arsitek avant-garde masanya, seperti Louis Kahn, Zaha Hadid, dan lain-lain.

Highlight wawancara :

Bagi Suwardana Winata, Tugas Akhir merupakan kunci utama untuk meneruskan pendidikan lanjut ke Amerika Serikat yang telah menjadi impiannya selama masa kuliah. Melewati Tugas Akhir selama waktu pra-reformasi, saat harga kebutuhan berarsitektur meningkat hingga 10x lipat, menuntut inovasi dan kreativitas dalam hal ekonomi dalam mengerjakan tugas akhirnya. Masa reformasi yang memicu instabilitas ekonomi selama beberapa tahun mengakibatkan Suwardana tidak bekerja di bidang arsitektur selama setahun setelah kelulusannya. Namun akhirnya, ia berhasil mewujudkan cita-citanya meneruskan kuliah magister arsitektur di Savannah College of Art and Technology (SCAT) di Georgia, Amerika Serikat. Selain kuliah, ia juga menjadi asisten pengajar. Oleh karena itu ia banyak berdiskusi dengan dosen-dosen disana. Selama belajar di SCAT, ia tertarik dengan desain-desain yang bersifat parametrik dan matematis. Beberapa dosennya mengusulkan untuk mempelajarinya di Virginia Tech, kemudian ia sempat mengikuti kelas-kelas disana. Setelah lulus, hasratnya sebagai aktivis kampus yang tersisa sejak masa kuliahnya diteruskan dengan menjadi pendidik di beberapa universitas di Jakarta dan menjadi bagian pendidikan untuk ikatan Arsitektur Indonesia.

Bagi Suwardana Winata, tugas akhir merupakan kunci utama baginya untuk meneruskan pendidikan lanjut ke Amerika Serikat yang telah menjadi impiannya selama masa kuliah. Melewati masa Tugas Akhir selama waktu pra-reformasi, saat harga kebutuhan berarsitektur meningkat hingga 10x lipat, Beliau malah tertantang untuk keluar dari tata cara konvensional menyajikan metode dan presentasi arsitektur. Suwardana Winata lebih memilih untuk menyajikan konsep melalui aksonometri potongan atau ditarik – yang merupakan hal yang tidak lazim – karena terinspirasi aristek-arsitek avant-garde masanya, seperti Louis Kahn, Zaha Hadid, dan lain-lain.

Maka, benarlah visi Tugas Akhirnya tersebut. Meski sebab masa reformasi yang memicu instabilitas ekonomi selama beberapa tahun, yang mengakibatkan Beliau tidak bekerja di bidang arsitektur selama setahun, Suwardana Winata berhasil mewujudkan cita-citanya meneruskan kuliah magister arsitektur di Savannah College of Art and Technology (SCAT) di Georgia, Amerika Serikat. Hasratnya sebagai aktivis kampus yang tersisa sejak masa kuliahnya diteruskan dengan menjadi pendidik di beberapa universitas di Jakarta dan menjadi bagian pendidikan untuk ikatan Arsitektur Indonesia.

Would you like to comment?

Leave a Reply