Setiadi Sopandi

Setiadi Sopandi lahir tahun 1975. Ia lulus dari Universitas Parahyangan di tahun 1998 dengan skripsi berjudul “Ekstrimisasi Arsitektur Postmodern di Indonesia. Ia melanjutkan master di bidang arsitektur di National University of Singapore. Ia menjadi pengajar di Universitas Pelita Harapan, dan pendiri Indra Tata Adilaras.

Ia mengalami pergantian kurikulum pada tahun terakhir masa pendidikannya di jurusan Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan (1997-1998). Kurikulum baru tersebut memecah Tugas Akhir menjadi mata kuliah Studio Akhir Arsitektur dan Skripsi sehingga membagi kredit SKS yang sebelumnya khusus untuk satu mata kuliah menjadi dua. Hal ini mendorong mahasiswa angkatan tersebut untuk memilih fokusnya.  Ia memilih untuk fokus pada proyek skripsi, di mana ia dapat membahas dan membedah satu topik yang spesifik secara berani. Melalui skripsinya, ia mencoba mengkritisi isu post-modern sebagai bahasa yang saat itu sedang hangat-hangatnya menjadi pembicaraan.

Judul Skripsi           : Ekstrimisasi Arsitektur Post-Modern Sebagai Bahasa

Tipologi                    : Kritik Arsitektur

Tahun Pengerjaan  : 1998

Lokasi                       : –

Arsitektur pada paruh kedua abad ke-20 (1970) telah memiliki wajah yang jauh berbeda dari paruh pertamanya (1920) (Klotz, 1988:2). Salah satu yang mendorong perubahan tersebut  adalah perkembangan teori lingusitik dalam arsitektur. Saat itu, Semiotik, Strukturalisme, dan Post-Strukturalisme telah membentuk berbagai bidang kehidupan dan disiplin ilmu, termasuk literatur, filsafat, antropologi, dan sosiologi, dan aktivitas kritis pada umumnya (Nesbitt, 1996;32). Dengan didukung berbagai kondisi yang mempersubur pandangan di atas, arsitektur kemudian menjadi sering dikonotasikan sebagai “pembawa pesan” (vehicle of meaning-menurut Klotz, 1988). Pesatnya perkembangan teknologi (khususnya media elektronik), perubahan bentuk ekonomi (kapitalisme), politik dunia (regionalisme), dan juga berbagai reaksi atas kegagalan modernisme memperlihatkan perbedaan cara penyampaian kenyataan dibandingkan dengan sebelumnya. Setiadi Sopandi mengkritisi fenomena kedua kutub ini dengan mengambil arsitektur Pra-modern sebagai model yang harus ditelaah dan dipelajari secara kritis untuk dijadikan sebuah “jalan tengah” di antara kemelut yang belum terselesaikan.

Highlight transkrip:

Skripsi ini menjadi sebuah tolok ukur Setiadi Sopandi untuk melakukan aktualisasi diri di tahun terakhirnya, meskipun kini Ia mengaku kandungan subjektifitasnya masih sangat tinggi. Hal ini pula yang membuatnya terjun ke dalam dunia riset dan penulisan buku sejarah secara konsisten dan mempelajari beragam hal dari kekurangan yang ada. Kini meskipun Ia aktif sebagai arsitek praktisi, ia juga terus mengajar, riset, dan menulis buku. Baginya, kegiatan yang digeluti di luar berpraktik sebagai arsitek adalah terapi untuk menata pikiran agar dapat mengartikulasikan arsitektur secara jernih.

Would you like to comment?

Leave a Reply