Gunawan Tjahjono

Gunawan Tjahjono lahir di Medan pada tahun 1945. Lulus dari Universitas Indonesia pada tahun 1975. Kemudian menempuh program pascasarjana di UCLA, lulus tahun 1983 dengan comprehensive final assigment yang berjudul “City as Museum”. Setelah itu sempat berpartisipasi dalam perancangan bangunan pusat kegiatan administrasi Universitas Indonesia sebelum mendapatkan gelar Ph.D di University of California, Berkeley, pada 1989. Kemudian bekerja di Duta Cermat Mandiri (DCM) Indonesia dan ENCONA. Saat ini ia merupakan guru besar Universitas Indonesia.

Judul Proyek : City As Museum

Universitas    : University of California Los Angeles

Tipologi          : Urban Design Guideline

Tahun            : 1981

Lokasi            : Kawasan Kota Tua, Jakarta Utara

City As Museum adalah konsep urban design guideline yang menitikberatkan perhatian pada perjalanan sejarah di sebuah kawasan. Terinspirasi dari penelitian yang dilakukan oleh dosen pembimbingnya Charles Moore, Gunawan Tjahjono mencoba menghubungkan kawasan kota tua Jakarta, mulai dari museum bahari, pasar ikan, stasiun Jakarta kota, dan balai kota (sekarang museum fatahilah) – yang dahulu dikenal sebagai jalur budaya –  menjadi sebuah koridor perjalanan sejarah. Langkah yang dilakukannya adalah dengan membuat gambar figure ground dan studi typology (ilmu tentang tipe bangunan atau biasa disebut dengan preseden). Setelah itu kajian dituangkan melalui abstraksi dengan gambar potongan untuk melihat kualitas volume, pencahayaan, dan sebagainya. Olahan perancangan yang dilakukan seperti menandai objek-objek mana yang bisa disambung di sepanjang jalur budaya tersebut dengan memberikan pepohonan sebagai pengarah dan mengolah massa bangunan yang ada. Studi tipologi yang dilakukan menggunakan macam-macam museum yang dirancang oleh James Stirling dan Hans Hollein. Beberapa buku yang dijadikan rujukan dalam perancangan seperti The Poetics of Gardens Book by (Charles Moore, William J. Mitchell, dan William Turnbull) dan Chambers For A Memory Place (Donlyn Lyndon dan Charles W. Moore).

Highlight wawancara:

Ketertarikan Gunawan Tjahjono akan museum sudah dimulai sejak pengerjaan Tugas Akhir S1-nya perancangan museum di kawasan Taman Ismail Marzuki. Museum menjadi semacam bagian dari pernyataan budaya. Museum awalnya adalah tempat mengoleksi benda-benda antik di emperan rumah. Ketika mendesain ia terinspirasi oleh Charles Moore yang menekankan tentang The Spirit of Place. Dalam belajar di jenjang S1, ia banyak melatih skill, S2 mulai berpikir, dan S3 mengkristalisasi pemikiran. Setelah belajar dalam waktu yang panjang, ia menyadari, mendesain penuh dengan tanggung jawab moral. Jika ada arsitek yang melakukan eksperimen, lalu malah membuat orang celaka, menurut saya hal itu adalah dosa paling besar. Hal tersebut yang juga ia tanamkan ketika mengajar.

 

Would you like to comment?

Leave a Reply