Eko Prawoto

Eko Prawoto menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Gajah Mada pada tahun 1982. Selama kuliah, Eko Prawoto juga bekerja di PT. Prima Design di Yogyakarta dari 1982 hingga 1985. Eko Prawoto melanjutkan kuliah Master of Architecture di Berlage Institute, Belanda tahun 1993. Saat ini ia merupakan pengajar di Universitas Kristen Duta Wacana dan arsitek prinsipal Eko Prawoto Architecture.

Judul Proyek      : Gelanggang Renang
Universitas         : Universitas Gadjah Mada
Tipologi               : Fasilitas Olah Raga
Tahun Proyek    : 1982
Lokasi                  : Yogyakarta, DIY Yogyakarta

Ketertarikan Eko Prawoto terhadap ilmu struktur didorong oleh kedekatannya dengan dosen ahli struktur dan masa kecilnya yang selalu tertarik dengan mesin. Diskursus mengenai wawasan identitas, melanjutkan nilai-nilai dan tradisi memang selalu ada di permukaan. Namun, dengan konteks Yokyakarta saat itu, hal ini menjadi hambatan karena budaya itu sendiri, sehingga tidak banyak ruang untuk dapat di-eksplorasi. Persoalan konstruksi menjadi netral, yang tentu memberi kesempatan memiliki ruang untuk bermain-main. Kolam renang dengan metode prefabrikasi kemudian menjadi terpilih, dilandasi oleh fakta bahwa kompetisi olah raga terkadang merupakan event yang harus dilaksanakan secara cepat, dengan waktu yang terbatas, sehingga membutuhkan proses konstruksi yang cukup singkat. Walaupun memang saat itu, sedikit sekali referensi untuk prefabrikasi. Idenya membuat satu kasus proyek yang menekankan pada konstruksi, yang dipersiapkan dengan metode prefabrikasi.

Highlight wawancara:

Dalam ber-arsitektur carilah yang tetap. Not everything changed. Jika kita sebagai arsitek selalu terobsesi dengan perubahan, mencari terus yang baru dan mengikuti arus, sebetulnya objeknya apa? Kita harus kembali pada tujuannya, bagaimana arsitektur memberi impact pada lingkungan dan manusia. Bukankah esensinya disana?

Kita harus bisa memperbaiki situasi, make it better, namun apabila kita tidak bisa memperbaikinya, just in case we can’t, please don’t make it worse. Tidak ada posisi netral. If we are not part of the solution, we are part of the problem.

Kita harus membuat perubahan untuk membuat dunia lebih baik, saya kira ini kontribusi kita sebagai arsitek. Orang Jawa bilang hamemayu hawaning bawana mempercantik bumi yang sudah cantik ini, bukan malah merusaknya. Bagaimana kita melihat profesi ini dan mencoba mengaitkan-nya dengan kehidupan, apa perang strategis dari profesi kita. Apa yang ingin kita lakukan dengan memilih profesi ini. Tugas akhir lalu bisa menjadi indikator apa sebetulnya yang kita cari.

Would you like to comment?

Leave a Reply