Dicky Hendrasto

Dicky Hendrasto menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Indonesia pada 1988. Ia mengerjakan tugas akhir dibawah bimbingan Ir. Karnaya, yang juga berpengalaman di dunia praktik. Pada waktu itu lokasi proyek sudah ditentukan di daerah pluit dan sekitarnya, karena adanya isu reklamasi & pengembangan daerah tersebut. Ia memulainya dengan sketsa-sketsa konseptual yang sangat banyak. Desainnya memiliki tingkat eksplorasi form dan detail yang tinggi. Karena kecintaannya dalam menggambar ia juga banyak mengeksplorasi grafis penyajiannya. Akhirnya tugas akhir ini berhasil meraih nilai A. Setelah lulus ia sempat bekerja pada Hoemar Tjokrodiatmo, dan juga aktif di Forum Arsitek Muda Indonesia (AMI). Pada tahun 1989, bergabung dengan Denton Corker Marshall (DCM). Saat ini, merupakan Associate Director di DCM.

Judul Proyek      :  Rekreasi Pantai & Marina Pluit

Universitas         :  Universitas Indonesia

Tipologi               :  Bangunan Rekreasi

Tahun Proyek    :  1988

Lokasi                  :  Pluit, Jakarta

Dalam mengerjakan Rekreasi Pantai & Marina Pluit, ide awal form-nya terinspirasi bentuk-bentuk kapal futuristik. Ia juga mengakui banyak terinspirasi bahasa arsitektur Santiago Calatrava yang di kala itu ia temukan dan pelajari dari majalah AD.  Bangunan terdiri dari pelabuhan hasil reklamasi dan fasilitas komersial & wisata. Bangunan menggunakan konstruksi baja yang dikombinasikan dengan atap-atap membran, sehingga bentuknya benar-benar menyerupai layar kapal. Ia menggambarkan konsep penyaluran beban (sistem tarik) dan juga detail-detail sambungan baja. Detail-detail bangunan diperlihatkan secara aksonometri dengan sangat detail.

Highlight wawancara:

Ketika mengerjakan tugas akhir ia sudah dari awal membuat sketsa-sketsa konseptual, saat survey sampai liburan. Data yang ia peroleh melalui survey langsung diimplementasikan lewat sketsa, sehingga tidak tercerai berai. Ketika masuk studio ia sudah siap. Tentunya dalam proses asistensi banyak sekali hambatan, karena desainnya yang mungkin terlalu eksploratif dan belum dapat diterima saat itu.Namun ia tidak memilih untuk mundur, ia semakin tertantang untuk terus mempelajarinya lebih dalam lagi. Akhirnya dengan strategi yang tepat serta kegembiraan dalam mengerjakannya, ia dapat menyelesaikannya dan mendapat nilai yang baik. Menurutnya desain hadir dari alam bawah sadar dan pengalaman yang sangat beragam, ketika kondisi mental baik, desain pun akan dapat tersalurkan ketika menggambar. Selama berpraktik, kantornya saat ini dapat mewadahi eksporasi “liar”nya dalam mendesain. Sehingga kini ia cukup nyaman dan tetap bertahan di kantornya saat ini.

Would you like to comment?

Leave a Reply