Ary Indra

Ary Indra lahir pada tahun 1971. Ia Lulus dari Universitas Brawijaya pada tahun1990 dengan tugas akhir berjudul “Jakarta Music Centrum Pusat pertunjukan dan Apresiasi Musik di Kawasan Wisata Ancol Jakarta”. Kemudian ia mengawali karir dengan bekerja di Astra International dan Ciputra Development. Pada tahun 1998,  ia memutuskan untuk bekerja di AXIS Architects Planners di Singapura. Pada 2005, bersama rekan-rekannya mendirikan Aboday.

Judul Proyek      :  Jakarta Music Centrum Pusat Pertunjukan dan Apresiasi Musik di Kawasan Wisata Ancol

Universitas         :  Universitas Brawijaya

Tipologi               :  Fasilitas Kesenian

Tahun Proyek    :  1995

Lokasi                  :  Ancol, Jakarta

Sebagai ibu kota Indonesia, Jakarta memiliki kemajuan dalam bidang musik. Pusat Pertunjukan dan Apresiasi Musik ini berlokasi di Ancol yang merupakan salah satu pusat rekreasi orang Jakarta. Menyukai komposisi bentuk menara dengan podium yang rendah, Ary Indra memulai desainnya dengan ide tersebut. Komposisi tersebut kemudian dikembangkan dengan konsep nautilus yang mencerminkan kemaritiman, sehingga menciptakan bentukan atap yang berlapis-lapis dan tidak konvensional pada jamannya. Pusat pertunjukan ini terdiri dari beberapa buah teater dengan ukuran yang bervariasi. Teater-teater tersebut dihubungkan oleh sebuah plasa semi terbuka yang berguna untuk mengalirkan udara juga.

Highlight wawancara:

Ketika S1, kampusnya banyak mengajari tentang hal-hal yang sifatnya kedaerahan (lokalitas, arsitektur vernakular, dan arsitektur tradisional). Pada tengah jenjang pendidikan S1, dirinya sangat terinspirasi Galih Widjil Pangarsa yang saat itu baru menyelesaikan S2. Dalam mengerjakan Tugas Akhirnya, Ary Indra menyebut dirinya sendiri sebagai seseorang yang religius dan berdedikasi. Ia menghabiskan waktunya ke studio setiap hari karena belum pernah ada yang membuat bangunan dengan kategori seperti itu sebelumnya. Ia menyukai soft-edges yang memperhalus bentuk monolith – tower dan podium – yang ia gunakan di proyek tersebut. Meski beberapa dosen pembimbingnya tidak menyukai bentuk yang ia hasilkan, ia tetap kukuh dengan konsep yang ia sajikan sejak awal. Akhirnya ia lulus dengan syarat harus menyajikan skema berpikirnya, dan proses desain konsep bangunannya.

Would you like to comment?

Leave a Reply