Ahmad Djuhara

Ahmad Djuhara lahir di Jakarta tahun 1966. Lulus dari Universitas Parahyangan pada tahun 1991, dengan tugas akhir berjudul “Revitalisasi Pasar Kanoman di Cirebon”. Selama masa kuliah ia aktif dalam berbagai forum, dan sayembara dalam ataupun luar negeri. Banyak sekali informasi yang didapat, dan sangat bermanfaat dalam cara pandang ketika mendesain. Tugas akhir yang ia pilih adalah merupakan kelanjutan dari penelitiannya tentang Pasar di Cirebon pada Mata Kuliah Seminar yang diambil satu semester sebelumnya. Sejak tahun 1992, berpartisipasi aktif di Forum Arsitek Muda Indonesia. Ia mengawali karir sebagai arsitek di Paramita Abirama Istasadhya (PAI) sejak 1992-1998. Kemudian mendirikan djuhara+djuhara pada tahun 1998. Ia juga menjabat sebagai ketua IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) daerah Jakarta pada periode 2006-2009. Saat ini merupakan ketua IAI Nasional periode 2015-2018.

Judul Proyek     :  Revitalisasi Pasar Kanoman di Cirebon

Universitas        :  Universitas Parahyangan

Tipologi              :  Pasar

Tahun Proyek   :  1991

Lokasi                 :  Cirebon, Jawa Barat

Kanoman merupakan salah satu dari empat Keraton Cirebon. Ketika zaman kolonial, pemerintah Hindia-Belanda berusaha memecah kekuasaan kedaerahan dan merendahkan derajat kekeratonan dengan membentuk distrik-distrik kekuasaan dengan blok terpisah (gentrifikasi). Hal yang menarik adalah alun-alun Keraton Kanoman di kelilingi oleh bangunan (termasuk bangunan pasar) sehingga tersembunyi. Pasar Kanoman pada masa Orde Baru sempat dirancang ulang, namun justru menambah kekacauan visual dan ruang pasar. Fenomena tersebut ditangggapi Ahmad Djuhara dengan melakukan re-layout pasar untuk menciptakan konektivitas aktivitas antara alun-alun di dalamnya dengan keadaan di luar, sehingga alun-alun kekeratonan memiliki nilai baru. Bangunan kolonial tetap dipertahankan, sehingga kesejarahan dan memori tentang tapak tetap terjaga.

Highlight Wawancara:

Apakah tugas akhir harus selalu serba bagus dan sempurna? Terkadang pertanyaan tersebut membuat galau, seakan-akan sudah tidak ada kesempatan lain setelah kuliah. Di sisi lain, kantor Djuhara+Djuhara tidak pernah mengharapkan lulusan yang paling pintar atau paling jago gambar, melainkan yang dapat mengerjakan tugas dan mau terus belajar. Belajar dapat di manapun, pada masa sekarang arus informasi sangat deras, sangat mudah untuk mempelajari suatu hal baru, namun sikap dalam mempelajari suatu hal secara mendalam di masa kini justru berkurang. Hal-hal yang banyak dibahas adalah tentang visual, cantik atau tidak cantik. Padahal yang lebih penting adalah soal anatomi bangunan, ketika itu mulai dibicarakan akan ada inovasi yang sifatnya fundamental.

Would you like to comment?

Leave a Reply