Achmad Noerzaman

Achmad Noerzaman lahir di Jakarta tahun 1965. Lulus dari Universitas Indonesia pada tahun 1987, dengan tugas akhir berjudul “Teater Kontemporer”. Ia berpartisipasi aktif di Forum Arsitek Muda Indonesia. Ia melanjutkan pendidikan Master of Management di Sekolah Tinggi Ekonomi IPWI. Kemudian ia mengawali sebagai junior architects, dan saat ini merupakan Presiden Director ARKONIN.

Judul Proyek : Teater Kontemporer

Universitas : Universitas Indonesia

Tipologi : Teater

Tahun Proyek : 1987

Lokasi : Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta Pusat

Achmad Noerzaman melakukan pendekatan perancangan dengan melakukan sintesis bahasa bangunan yang lama dan yang baru melalui penggunaan teknologi baja pra cetak sebagai struktur bangunan  tanpa meninggalkan bahasa bangunan yang telah berdiri sejak era kolonial. Rancangannya dimulai dengan memberikan ruang-ruang penghubung dari bangunan-bangunan eksisting yang telah ada. Kemudian Achmad Noerzaman menambahkan beberapa program teater terbuka dan tertutup, membuat museum pos Indonesia, dan mendesain lansekap ruang publik. Achmad Noerzaman banyak terinspirasi oleh beberapa arsitek post-modern seperti Bernard Tschumi, Richard Rogers, Michael Graves, dan Hans Hollein.

Pemecahan masalah teknis pada Tugas Akhir Achmad Noerzaman terlihat sangat ditekankan, hal ini tercermin dari presentasi gambar yang hanya menggunakan denah, tampak, dan potongan, dan beberapa gambar detail saja tanpa adanya gambar perspektif.  Achmad Noerzaman melengkapi materi pameran ini dengan sketsa perspektif suasana yang dibuatnya di tahun 2017 ini, 30 tahun setelah melewati masa Tugas Akhirnya. Sketsa ini melengkapi mimpi yang belum sempat dicapainya ketika mengerjakan Tugas Akhir di tahun 1987.                                              

Format: Ilustrasi dalam panel A3 dan sketsa perspektif tambahan

Highlight Transkrip:

Tugas Akhir Achmad Noerzaman memiliki muatan teknis yang cukup tinggi. Hal ini terlihat dari pilihan produk Tugas Akhirnya yang hanya menggunakan denah, tampak, dan potongan bangunan hitam putih tanpa menggunakan gambar perspektif bangunan. Penggambaran potongan bangunan menekankan eksplorasi material baja pre-fabrikasi dan tektonika struktur yang diperlihatkan sebagai bahasa utama bangunan. Hingga saat ini, ketertarikannya pada penyelesaian masalah teknis rancangan menjadi bekal dirinya untuk menyelesaikan beragam jenis tipologi bangunan di dunia praktik.

Would you like to comment?

Leave a Reply