Bamboo Design workshop- Designing with Bamboo-Course Documentation

 

Last Saturday, we have commenced a Generic Design Course, which emphasized on Designin with Bamboo. Mr. Mukoddas brought it enthusiastically. He shared knowledge, experience, and tips on designing with bamboo.

On the first session, Mr. Mukoddas began by explaining species and characteristics of bamboo and their different use. According to a research by Prof. Morisco, bamboo is strong to resist drawing force. Discussion was held eagerly when we discussed bamboo joints. Through presentation, he shared traditional construction exploration on Tapak Bumi Village and floating bamboo buildings. Bamboo buildings will last only for 3 years, since bamboo will face rain and direct sunlight once erected. Mr. Mukoddas also developed Akademi Bambu Nusantara (ABN) as a place where people are able to learn about bamboo; the place consists of workshop, recreation and bamboo field. He continued exploring joints and traditional bamboo construction in modern designs of houses, shelters, villas, and restaurants. He explained how designing with bamboo is the right choice since it is eco friendly and efficient: building a house may take up only 1-2 mil. rupiahs. Exploration may also occur in forming and shaping, for instance in the installation he made He arches a bamboo through various methods, combining bamboo and stainless steel as joints and membrane roofing.
He tried preserving through boucherie, pressure, and vsd through chemicals mixing such as borax and boric. However, he now chooses to only use natural ingredients. The first session was completed with a presentation of a villa project with a bamboo dome.

The second session is workshop. Participants was asked to design a bamboo construction through the book “Traditional and Innovative Joints in Bamboo Construction”. According to Dr. Ing Andry Widyowijatnoko, there are 3 types of bamboo constructions:
1. Traditional – Conventional. Using empirical ways according to prior building precedents. For instances a vernacular bamboo house.
2. Engineered – Conventional. Manipulating construction technique using scientific method, such as bolted bamboo in a modern house.
3. Substitutive. Using bamboo as substitutive material, e.g. bamboo as substitute for steel pipe.

After the drawing session, OMAH team presented a session of Learning from the Master on Simon Velez and Markus Heinsdorff. Through his projects, Simon Velez explored engineered-conventional construction method. Markus Heinsdorff used many substitutive construction methods. On the finale of the workshop, each participant presented their work and was discussed by Mr. Mukoddas, as a design input for each of them.

Sabtu lalu, kami telah menyelenggarakan Generic Design Course: Designing with Bamboo. Pak Mukoddas membawakannya dengan begitu bersemangat. Beliau membagikan pengetahuan, pengalaman, serta tips dan trik mendesain dengan bambu.
Pada sesi pertama, Pak Mukoddas mengawali dengan memperkenalkan spesies -spesies bambu dan karakteristik serta fungsinya. Kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai penelitian Prof. Morisco, tentang kekuatan bambu untuk menahan gaya tarik. Diskusi begitu energik ketika pembahasan sambungan – sambungan bambu. Pak Mukoddas banyak membagikan pengalamannya lewat presentasi karya. Ia melakukan berbagai eksplorasi konstruksi traditional pada Tapak Bumi Village, serta mencoba mendesain bangunan bambu terapung. Kawasan dengan desain bambu tersebut hanya bertahan selama 3 tahun, karena proses pengawetannya hanya dilakukan dengan perendaman dan ketika terbangun, bambu-bambu banyak yang terkena hujan dan cahaya matahari langsung. Tidak berhenti sampai disitu, ia kemudian mengembangkan kawasan Akademi Bambu Nusantara (ABN) dengan konsep yang serupa, yaitu tempat dimana masyarakat dapat belajar tentang bambu, terdapat workshop, memiliki tempat rekreasi dan kebun bambu. Setelah itu ia terus mengeksplorasi sambungan – sambungan dan konstruksi bambu tradisional dalam desain – desain yang modern mulai dari proyek rumah tinggal, shelter, villa, dan restauran. Ia memaparkan mendesain menggunakan bambu merupakan pilihan yang tepat karena selain ramah lingkungan, juga efisien. Untuk sebuah rumah sederhana, biaya konstruksinya dapat ditekan sampai hanya 1-2 juta saja. Eksplorasi tidak hanya dilakukan dari segi penghematan biaya. Ia juga melakukan eksplorasi forma dan bentuk, dalam konstruksi modern, melalui proyek instalasi bambu yang ia kerjakan. Ia melengkungkan bambu dengan berbagai metode, menggabungkan bambu dengan material stainless steel sebagai sambungan-sambungannya dan penggunaan atap membran. Dari segi pengawetan ia juga telah mencoba teknik boucherie, pressure, dan vsd dengan material kimiawi campuran borax dan boric. Namun saat ini ia memilih untuk hanya menggunakan pengawetan dengan bahan – bahan alami. Sesi pertama ditutup dengan presentasi sebuah proyek vila dengan kubah bambu, dengan penggabungan berbagai teknik dan elemen penyusun, serta join-join khusus dengan pemanfaatan material daur ulang.
Sesi kedua adalah workshop. Peserta dapat mempraktikkan langsung ilmu yang didapatnya pada sesi pertama. Peserta diminta untuk mendesain konstruksi bambu berdasarkan buku “Traditional and Innovative Joints in Bamboo Construction”. Menurut Dr. Ing Andry Widyowijatnoko, klasifikasi konstruksi bambu dapat dibagi menjadi 3, yaitu:
1. Traditional – Conventional
Penggunaan cara-cara empiris berdasarkan teknik yang telah ada pada bangunan-bangunan sebelumnya (tradisional). Contoh: Rumah adat dengan material bambu
2. Engineered – Conventional
Menggunakan manipulasi teknik konstruksi yang sudah ada dengan pendekatan scientific. Contoh: Desain bangunan modern dengan penggunaan bambu yang dibaut
3. Substitutive
Menggunakan bambu sebagai material pengganti material lain yang sudah umum digunakan. Contoh: Penggunaan Bambu menjadi elemen pengganti pipa baja
Setelah menyelesaikan sketsa, tim OMAH mempresentasikan sesi Learning From The Master. Fiona mempresentasikan tentang Simon Velez. Pada proyek – proyeknya, Simon Velez banyak mengeksplorasi konstruksi engineered – conventional. Bangkit kemudian mempresentasikan Markus Heinsdorff yang banyak menggunakan konstruksi substitutif. Di puncak acara Workshop, seluruh peserta mempresentasikan hasil karyanya dan kemudian dibahas satu per satu oleh Pak Mukoddas, sebagai input bagi desain mereka masing-masing.

Reference
Heinsdorff, M. (2013). The bamboo architecture design with nature. Hong Kong: Design Media.
Velez, Simon. (2013). Simón Vélez: Architect Mastering Bamboo. Arles: Actes Sud.

Would you like to comment?

Leave a Reply