Writing workshop- Essay on Architecture- Course Documentation

Hi Restless Spirit!
Last Saturday, we did such an inspiring workshop. Robin Hartanto introduced the essays on architecture as an approach to writing critic in architecture. Thanks to Robin Hartanto for sharing with us.

Writing a critic in architecture is as likely as writing a review to our favourite movie. The audiences could explain which part of the scene they like, they don’t like, explaining why, proposing how should it be, and take the advantages from it. This kind of explicit reviews should be considered in architecture, while architecture is in the daily life of the society. As Alexandra Lange said, buildings are everywhere, and we (people) are their best audience. Owners, clients and residences come and go, but architecture lives on, acting a role in the life of the city and its citizen long after the original players are gone.

Essays have been chosen as an approach to write a critic because first, according to its original terms that which in the old French word is essaier, which literally means to try your hand at something. As well as the other definitions that came from English word essay/assay which means to attempt and in late Latin mean to ascertain the weight of something. Second, according to the way of thinking of Michele de Montaigne, the inventor as well as the writer of the book entitled essai. He put himself as a substance of the book, which reflects the honesty to write what he knows, as a natural understanding process.

In the writing process, the writer needs the method of operation to generate the ideas into the writing. Robin explained the step by step to make a structure of the writing by using BEAM (Background, Exhibit, Argument, Method), a method which made by Prof. Joseph Bizup from Columbia University. This method is used to develop a vocabulary for talking about sources. Some important factors to be considered when developing the outline are the newness, proximity, uniqueness and conflict. Putting the sources based on its own characteristic and role to consolidate the arguments in balance. These processes make the arrangement of ideas and development of paragraph easier.

The first session is closed with the presentation by Rifandi and Bangkit about approaches in writing according to the book that is written by Alexandra Lange entitled Writing About Architecture. This book explains four major approaches in architecture writing, formal, experiential, historical, and activist. Then, they reviewed some writings that are talking about similar objects but written by 3 different writers. These categories are useful for understanding the position and characteristic of writing, and also to know there are many ways of writing.

Getting satisfied with a bunch of theories, after the lunch the participants were invited to apply it within the workshop. They responded the case study, made a list of sources, generated the source into the outline, and developed a full writing. The writing processes should be more fluid, not too strict to the previous outline. The paragraph might be developed by following the other things that come to mind. The thing that needs to be kept is the consistency and the balance between arguments and sources. Writing an essay is an attempt, the process of thinking which trying to ascertain the uncertainty. One same object could be seen from the different perspectives, depending on our sources and experiences, that make an object more valuable. Thus, writing is not only valuable for the object itself, but also for the writer to push their knowledge through the understanding process.


Hari Sabtu kemarin, kami telah menyelesaikan workshop yang menginspirasi. Robin Hartanto mengisi kelas penulisan arsitektur dengan memperkenalkan essay sebagai sebuah pendekatan penulisan kritik arsitektur. Terima kasih Robin telah berbagi bersama kami.

Menulis kritik sebuah karya arsitektur sama halnya seperti menuliskan review pada film favorit. Penonton dapat menceritakan ulang potongan film yang disukai, bagian mana yang kurang, menyatakan pendapatnya, bagaimana seharusnya, dan mengambil pelajaran dari apa yang ditonton. Penilaian yang gamblang seperti ini seharusnya dapat pula diterapkan pada arsitektur, sebagai objek yang melekat dengan keseharian masyarakat. Alexandra Lange di dalam bukunya Writing About Architecture menyatakan bangunan ada dimana-mana, dan kita (masyarakat) adalah penonton terbaik mereka. Klien, penghuni, dan pemiliknya akan datang dan pergi, namun arsitektur tetap ada, memainkan peranannya di dalam kehidupan kota dan masyarakatnya bahkan jauh setelah aktor utamanya pergi.

Essay dipilih sebagai salah satu pendekatan melakukan kritik karena pertama, merujuk pada definisi katanya sendiri yang berasal dari bahasa Perancis lama essaier yang secara harafiah berarti to try your hand at something. Begitu pula dengan definisi lainnya yang dalam bahasa Inggris essay/assay berarti to attempt dan bahasa Latin baru berarti to ascertain the weight of something. Kedua, melihat jalan pikir Michel de Montaigne seorang penemu dan penulis buku essai. Ia menyebut dirinya sebagai substansi dari isi buku yang ditulisnya sendiri, merefleksikan kejujurannya dalam menuliskan apa yang ia ketahui, sebagai proses memahami sesuatu.

Dalam proses penulisan, dibutuhkan sebuah metode operasi yang memudahkan penulis menuangkan apa yang dipikirkannya ke dalam tulisan. Robin melanjutkannya dengan membahas langkah-langkah membuat struktur sebuah tulisan dengan menggunakan metode penulisan BEAM (Background, Exhibit, Argument, Method) yang ditulis oleh Prof. Joseph Bizup dari Columbia University. Metode ini digunakan untuk mengembangkan kosa kata dari sumber yang didapat. Hal yang penting untuk dipertimbangkan dalam penyusunan outline agar tulisan menjadi menarik adalah faktor kebaruan, kedekatan, keunikan, dan konflik dari sebuah fakta. Memilih data-data berdasarkan perannya untuk memperkuat argumentasi secara seimbang. Proses ini mempermudah penyusunan pokok pikiran dalam membangun paragraf.

Sesi pertama ditutup dengan presentasi oleh Rifandi dan Bangkit tentang pendekatan (approaches) penulisan berdasarkan buku yang ditulis oleh Alexandra Lange yang berjudul writing about architecture. Buku ini mengenalkan macam-macam pendekatan yang pada umumnya terbagi pada 4 kategori yakni formal, experiential, historical, dan acitivist. Kemudian membedah tulisan pada objek yang sama yang dibuat oleh 3 penulis yang berbeda. Kategorisasi ini berfungsi memudahkan penulis untuk memahami karakteristik tulisan yang sedang dibuatnya dan mengenal gaya bahasa penulisan yang sudah ada.

Puas disuguhkan teori sejak pagi hari, selepas makan siang peserta diajak untuk mencoba mempraktikannya. Peserta diminta merespon studi kasus dan referensi yang diberikan, membuat list referensi, menyusun outline penulisan, dan mengembangkannya menjadi sebuah tulisan utuh. Dalam proses menyusun tulisan outline yang telah dibuat berdasarkan klasifikasi tidak kaku harus dipenuhi. Paragraf bisa saja berkembang karena biasanya dalam prosesnya penulis akan terpikir banyak hal lain yang dapat memperkaya ide gagasan. Hal perlu tetap dijaga adalah konsistensi antara argumentasi dan sumber data yang ada, juga hubungan antar paragraf. Percobaan menulis ini adalah bagian dari proses berpikir dan memastikan apa yang belum diyakini. Satu objek yang sama dapat dilihat dari sumber data dan pengalaman pribadi yang berbeda-beda, yang memperkaya penilaian pada suatu objek. Dengan demikian, menulis bukan hanya berharga bagi objek yang dinilai saja, tapi juga bagi penulis untuk memahami jalan pikirnya sendiri dan mendorong pemahamannya lebih jauh lagi.

Would you like to comment?

Leave a Reply