Generic Design – Design Hotel Interior- Course Documentation

Hello Restless spirit!
On 29-30 July we have engaged in very fun, yet challenging workshop and lectures. Thanks to Mr. Mondrich Sjarief and the PIU Studio team who have been shared their knowledge, including some tips and secrets in running interior projects. The third course of OMAH Library was held on Saturday and Sunday. On Saturday it was preceded by an introduction from Realrich Sjarief, followed by traces of interior design profession lectured by Bangkit Mandela & Rio Sanjaya. Sunday material were covered by Rezki Dikaputera & Rifandi S. Nugroho about Yabu Pushelberg. In this two days, Mr. Mondrich Sjarief and PIU Studio team provide expertise advice and stories from experience during their interior building practice. Workshop participants are welcomed to exposing their imagination and knowledge that has been obtained in the introductory discussion of designing the interior of a hotel room. In creating the interior concept of a hotel room measuring 3.37x 10.5 m, participants are guided by a team from Mondrich Sjarief who is a founder of PIU Studio. After extracting ideas, some of the work of participants being reviewed one by one. In the discussion, Mr. Mondrich gave some interesting suggestions, for example the importance of providing space between the bathroom to prevent mud on the floor material of the hotel room, providing ease for maintenance, and give a positive first impression of the atmosphere of space. On the second day Mr. Mondrich gave more insight about running interior studio, how to negotiate with clients through the design, and well delivered stories about various factor in a hotel atmosphere.

On Saturdays from the discussion that has been done based on the book History of Interior Design (John Pile & Judith Gura), we know that design had begun from human necessity to glorify God. It causes the human resident gradually moved from the cave, generates piles of structures, and then increasing the size of the living space. Correspondingly, the inner space formed begins to be filled by symbols or decorations that were originally part of the exterior. Early Interior Design profession that has been acknowledged appeared in 1913 by Elsie de Wolfe from the book titled “The House in Good Taste”. In respect of style, there are two notable that is Victorian (19th century) or what we generally call classic and Eclecticism (20th century) that known as modernism. Interior projects can be classified into several typologies, such as Hospitality, Workplace, Residential, Retail, Education, and Public Spaces. In handling the project, Mr. Mondrich performs the design begins by understanding the existing brief from the client, starting typology, budget, up to project time planning. From the conclusion of the existing brief he injected a suitable concept in accordance with the brief. When starting to do a design process, he began to determine the characteristics to which elements of space will be highlighted or dominant. Space planning is determined through the bubble diagram and more detail in the process. The most noteworthy is the element of color, furniture used, and detail. In the case of interior room design, it is important to note the TOR that given by the operator and the project owner, who sometimes must choose to follow one. TOR generally includes the standard type of material, furniture, or maybe even one element of the field line that has become the hallmark of the hotel operator.

On the Sunday, the discussion begins from introduction of Glenn Pushelberg and George Yabu, what else their work in the world of interior design and what is interesting from their work. Yabu-Pushelberg strongly emphasizes the utilization of all elements of the room including elements of the stairs that often avoided by the interior designer of the building. They assume that life and ladder have an analogy of Life a rise-to-run formula, like show biz, like stairs- what goes up also comes down, theatrically, ceremoniously, always in other places, other rooms &The luxury presented by both is not through the use of expensive material, but is presented with the use of detail of material, form, and especially the experience to be presented. Thus, the material composition can make the observer slow down the activity and then look for something that makes him curious and try to find it. From it then the design of the interior also involves the storyline, a series to be conveyed to the user space in a safe and comfortable.

 


Halo Restless spirit!

Terimakasih kepada Mondrich Sjarief dan tim Studio PIU yang telah berkenan membagikan ilmu desain interior, termasuk beberapa tips dan rahasia dalam menjalankan project interior. Course ketiga OMAH Library ini telah diselenggarakann pada hari sabtu dan minggu kemarin. Pada hari sabtu diawali oleh pengantar dari Realrich Sjarief dan menelusuri jejak babak awal dari keprofesian desain interior bersama Bangkit Mandela & Rio Sanjaya. Hari minggu materi diawali oleh Rezki Dikaputera & Rifandi S. Nugroho dengan Glenn Pushelberg. Dalam dua hari juga Mondrich Sjarief serta tim Studio PIU memberikan saran serta buah dari pengalaman selama berpraktik interior bangunan.

Dalam dua hari peserta workshop dipersilahkan untuk meluapkan imajinasi dan ilmu yang telah didapat ketika diskusi pengantar dalam merancang interior kamar hotel. Dalam menelurkan konsep interior sebuah kamar hotel berukuran 3,37x 10,5 m peserta dipandu oleh Tim dari PIU yang merupakan konsultan interior dari Mondrich Sjarief. Setelah melakukan proses penggalian ide, beberapa karya peserta di review satu persatu. Review berupa forum diskusi yang positif sehingga bisa membangun core ilmu interior peserta. Dalam diskusi Mondrich memberi beberapa saran, diantaranya memberikan ruang antara pada kamar mandi untuk mencegah becek pada material lantai kamar hotel, memberikan kemudahan untuk maintenance, dan memberikan kesan positif dari suasana ruang. Ketika hari kedua Mondrich lebih detail lagi berbagi ilmu ketika dalam menjalankan biro yang dia jalankan, bagiamana bernegosiasi dengan klien melalui desain yang benar-benar terncana sesuai rangkaian cerita yang ingin dihadirkan hingga faktor keamanan dalam hasil karya. Pada hari sabtu dari bahasan yang telah dilakukan berdasarkan buku History of Interior Design (John Pile & Judith Gura), kita mengetahui bahwa diawali dari kebutuhan manusia terhadap pengagungan kepada Dewa atau Tuhan. Hal itu menyebabkan tempat tinggal manusia lama kelamaan lepas dari gua, menciptakan tumpukan struktur lalu semakin memperbesar ukuran ruang tinggalnya. Sejalan dengan itu ruang dalam yang terbentuk mulai diisi oleh simbol ataupun hiasan yang awalnya merupakan bagian dari eksterior. Keprofesian desain Interior sendiri yang tertulis baru ada pada tahun 1913 dalam buku The House in Good Tastekarya Elsie de Wofe. Dalam pembahasan terdapat dua langgam yang mendasar yaitu Victorian(Abad ke-19) atau yang umumnya kita sebut klasik dan Ecletic (Abad ke-20) yang kita katakan modern.

Project interior dapat diklasifikasikan ke beberapa tipologi, yaitu Hospitality, Workplace, Residential, Retail, Education, dan Public Spaces. Dalam menangani proyeknya Mondrich melakukan perancangan diawali dengan memahami brief yang ada dari klien, mulai tipology, budget, hingga perencanaan waktu proyek. Dari pengendapan brief yang ada dia memasukkan konsep yang cocok sesuai dengan brief. Ketika mulai melakukan proses perancangan dia mulai menentukan karakteristik hingga elemen ruang apa yang akan ditonjolkan atau dominan.Perencanaan ruang yang dilakukan ditentukan melalui buble diagram dan semakin didetailkan lagi dalam proses. Yang paling perlu diperhatikan adalah elemen warna, furnitur yang digunakan serta detail. Dalam kasus perancangan interior kamar hotel perlu sangat diperhatikan TOR yang diberikan oleh operator serta owner project, yang terkadang harus memilih untuk mengikuti salah satunya. Umumnya TOR sudah termasuk standard jenis material, furniture, atau bahkan mungkin salah satu elemen garis bidang yang sudah menjadi ciri operator hotel tersebut.
Dihari minggu diskusi diawali dari mengenal siapa itu Glenn Pushelberg dan George Yabu, bagaimana kiprahnya didunia desain interior dan apa saja yang menarik dari karyanya. Yabu-Pushelberg sangat menitikberatkan pada pemanfaatan seluruh elemen ruangan termasuk elemen tangga yang seringkali dihindari oleh perancang interior bangunan. Mereka menganggap bahwa kehidupan dan tangga memiliki sebuah analogi yaitu “Life a rise-to- run formula, like show biz, like stairs- what goes up also coes down, theatrically, ceremonously, always in other places, other rooms.”. Kemewahan yang dihadirkan keduanya bukan melalui penggunaan material yang berharga mahal, namun dihadirkan dengan pemanfaatan detail dari material, bentuk, dan terutama pengalaman yang ingin dihadirkan. Sehingga, komposisi material dapat membuat pengamat melambatkan aktivitas lalu mencari sesuatu yang membuatnya penasaran dan berusaha menemukannya. Dari hal itu maka perancangan interior juga melibatkan alur cerita, suatu rangkaian yang ingin disampaikan kepada pengguna ruang secara aman dan nyaman.

Would you like to comment?

Leave a Reply