Bitter Sweet #23 Memories in Architects Life – Willis Kusuma

Hi Restless Spirits!

We are gonna hold another session of Bittersweet Memories in Design Experiences featuring Willis Kusuma from Willis Kusuma Architects.

Willis Kusuma received a Master of Architecture from the University of Florida, USA in 1998 and has also spent a semester in Universidad Autonoma de Yucatan, Mexico. He was awarded Outstanding Academic Achievement by the University of Florida. In 1997, his award winning Lifeguard Station project for South Beach was exhibited in Miami City Hall.

Upon completing his graduate studies, he moved to Southern California to work with Barry Berkus and Stenfors Pail Fekete Architects. From 2001 to 2004, he worked at Richard Meier and Partners, in Los Angeles, on San Jose Civic Center project. He was a jury of a student com petition at the University of Central Florida in 2003.

In 2004, Willis Kusuma returned to Jakarta to begin his own practice, Wiilis Kusuma Architects. This office has since become one of the most recognized practices in the country. Some of his projects include GF
House (2011), Cikajang Mix Use Building (2016). Jonas Photo Studio (2016), Twin House (WlP), Radio
Dalam Office (WlP), Skye (2012), and Olivier (2015).

He will share his experiences on
Saturday, 20 October 2018/ 13.00 – 15.00
at OMAH Library

http://bit.ly/BS_23

Please be there on time, since we need to give the speaker his due. Let’s learn and be inspired!

*The invitation is limited to 15 persons because of the current location is in residential area, Realrich, the home owner decided to respect the neighborhood by limiting visitor to permission-only visitation to his friends, new friends and all of new people who like to learn architecture. Every people, whom like to read or use this collection, for any purpose, are needed to call before visiting from home owner.

OMAH is a place for collection of personal books and archive, which located inside private residential owned by architect Realrich Sjarief and dentist Laurensia Yudith.

 


Berikut adalah reportase acara tanggal 20 oktober 2018

Hello Restless spirit!

Pada tanggal 20 Oktober 2018, kami telah memulai sesi Bittersweet ke-23 bersama Willis Kusuma yang dimoderatori oleh Realrich Sjarief. Beberapa hal penting yang ia bagikan sebagian besar adalah dari cerita masa pendidikannya di Amerika dan ketika permulaannya membuat biro sendiri. Berikut catatan penting yang bisa didapat:

1. Ketika pendidikan S1, Willis merasa bahwa ilmu-ilmu dasar arsitektur yang ia dapatkan, yaitu perancangan basis dan staff pengajar mempengaruhi kualitas dari anak didiknya. Menurut Willis sendiri langkah menjadi arsitek yang berdedikasi membutuhkan banyak sekali investasi dalam bentuk waktu dan tenaga yang dia korbankan, sehingga seiring bertambahnya usia dia memilih telat untuk berumah tangga. Arsitektur sendiri juga merupakan ilmu yang harus diasah dalam waktu yang panjang. Mulai dari perencanaan, pendetailan, melayani klien, serta teknis lapangan, arsitektur dan kehidupan arsitek tidak dapat dipisahkan karena merupakan dedikasi dan passion seumur hidup, dan membaca buku merupakan salah satu cara penting dalam membantu proses mengasah ilmu arsitektur serta rasa keingintahuan.

2. Dalam studio, mahasiswa sebaiknya tidak hanya mendengarkan arahan dosen atau mempertentangkannya, tetapi juga memberi feedback melalui pengetahuan serta desain atau ide yang kreatif. Dibanding mendengarkan opini dosen, ketika kuliah S1 Willis lebih memilih untuk mengikuti referensi buku perpustakaan. Menurut willis, dalam proses menanggapi dosen adalah menyatukan ide antara yang di utarakan oleh dosen dengan ide yang dimiliki mahasiswa. Lingkungan kerja yang aktif memberikan apresiasi, akan meningkatkan semangat positif bagi seseorang. Pengalaman ini didapatkan dari bekerja dengan sebuah kontraktor asal Jepang.

3. Dasar Willis dalam memilih kampus untuk pendidikannya adalah belajar dari master-master arsitektur di Amerika. Pemilihan Amerika terutama karena referensi-referensi arsitektur saat itu umumnya didominasi oleh majalah Sci-arc & G.A. Salah satu karya arsitektur yang dikunjunginya di Amerika adalah Exeter Library karya Louis I. Kahn. Awalnya Willis tidak ingin masuk ke dalamnya karena bentuknya tampak sama saja dengan bangunan lain. Ketika masuk ke dalamnya, mula-mula dia merasakan skala ruang yang pendek, lalu tiba-tiba berubah menjadi luas dan tinggi saat mencapai ruang Atrium. Talang-talang yang ada dirasa akan mengenai kepalanya. Ketika itulah Willis merasa adanya malaikat arsitektur menyentuh kepalanya (memberikan inspirasi). Dalam momen itu baginya bukan tentang mata yang melihat, tapi perasaan terhadap ruang. Bukan karena dia merasa suka akan bentuknya, namun tergugah oleh ruang, pengalaman, dan penjiwaan terhadap ruangnya. Menurut Willis, modernism bisa lebih bertahan dibandingkan era-era arsitektur lainnya di dekade ini. Setelah adanya kunjungan-kunjungan (melihat & rasakan) arsitektur, Willis menyimpulkan bahwa dia lebih menyukai karya yang menyentuh functionality & simplicity.

Berikut beberapa testimonial dari acara hari itu :
1. Ismail Nur Rachman dari Institut Teknologi Indonesia “Saya sangat suka yang disampaikan dan tidak mudah menjadi arsitek karena harus bekerja keras dan perbanyak pengalaman dan membaca buku.”

2. Achmad Ghazali dari ITI “Mengenal seorang Willis Kusuma dan karya-karyanya serta prestasi mengenai projeknya sangat mengesankan.”

3. Louis Osualdo Xavier dari Goal “Inspirasi untuk menjadi pegangan menjadi arsitek muda yang memiliki mental baja.”

4. Vina Triyuliana dari UPH “Konsistensi dan pantang menyerah dari proses belajar membuka mata saya dari menghargai suatu karya dan kehidupan.”

5. Jennifer dari UPH “Pembicaraan seminar ini sangat menarik,tidak terlalu formal/serius sehingga dapat dicerna dengan baik dan mudah.Inti pembicaraan juga realistis sehingga dapat di cocokan dengan kehidupan nyata (preparing self).”

6. Robert Christopher dari UPH “Suatu sharing dan “Lecturer” yang baik untuk membangun diri dan menambah wawasan mengenai keprofesian sebagai arsitek.”

7. Michael Dsabana dari UPH “Saya mencapai suatu masukan/mungkin kesamaan dalam masa lalu pribadi dalam keluarga/pun pemasukan lainnya.Semoga bermanfaat untuk membantu pola pikir saya nanti.”

8. Muhamad Alif Rizky R dari Institut Teknologi Indonesia “Penyampaian pengalaman seorang Pak Willis sangat menginspirasi terutama bahwa kita harus menjalani apa yang kita suka.”

9. Sebastian dari UPH “Such a great talk by Willis Kusuma but a not-so-proportional venue. *The room cannot support 60 people. But a great talk anyway! Thanks to Mr.Realrich for moderating the speech.”

10. Mahsya dari UPH “Melalui ini wawasan saya dalam dunia arsitektur menjadi lebih luas, seperti perspektif kita dalam membuat sebuah projek.”

Willis Kusuma adalah prinsipal arsitek dari Willis Kusuma Architects, ia meraih Sarjana Arsitektur di Universitas Tarumanagara, kemudian menyelesaikan studio yang memiliki tema iklim, puisi, dan konstruksi di La Universidad Autonoma de Yucatan in Merida, Mexico. Kemudian Willis menyelesaikan Studi Magister Arsitektur di University of Florida. Ia bekerja untuk Richard Meier & Partners in Los Angeles, dimana Richard Meier adalah salah satu peraih Pritzker Prize. Ia kemudian kembali ke Indonesia untuk mendirikan Willis Kusuma Architects.
Reportase ditulis dan disusun oleh librarian Omah Vera Vebrianti.

Omah library adalah perpustakaan pribadi yang ada di kediaman Realrich Sjarief dan Laurensia Yudith. Karena lokasinya yang ada di perumahan dan perlu untuk menjaga ketenangan lingkungan, pemilik rumah membatasi jumlah kunjungan dan harus melakukan reservasi. Terima Kasih.

Would you like to comment?

Leave a Reply