Exhibition #2 – Menjadi Arsitek

PAMERAN MENJADI ARSITEK
16 Desember 2017 – 6 Januari 2018

Daftar ke tautan berikut http://bit.ly/menjadiarsitek

Menjadi Arsitek, Menghayati Manusia

“aku durung tau ketemu manungsa”
(aku belum pernah bertemu manusia)
-Ki Ageng Suryomentaram

Ya, “aku belum pernah bertemu manusia”, Kata-kata itulah yang diucapkan oleh Ki Ageng Suryomentaram ketika dia memutuskan untuk melepas gelar bangsawan yang dimilikinya di lingkungan Kraton Kasultanan Jogjakarta. Ia lalu memilih hidup sebagai orang biasa, menjadi petani di desa Bringin, Salatiga, Jawa Tengah. Sebelumnya, Ki Ageng Suryomentaram adalah seorang bangsawan, anak Sultan Hamengkubuwono VII, tetapi dia berpikir bahwa dalam hidupnya ia hanya bertemu dengan kepura-puraan, bertemu dengan orang dalam balutan jabatannya, gelarnya, kedudukannya ataupun pekerjaannya. Sehingga dia merasa kesepian, merasa tak pernah bertemu manusia yang sesungguhnya, yang apa adanya, yang punya rasa sedih dan gembira, rasa takut dan berani, yang bisa menangis dan tertawa, yang bisa bercanda dan serius, atau bisa merajuk, berkeluh-kesah, cemberut, ceria, nakal, usil, ngawur, nekad dan sebagainya, yang ditemuinya hanya topeng-topeng dengan tatapan dingin, seperti “bukan” manusia.

Demikian pula dalam dunia profesi arsitek, juga di dalam mata kuliah keprofesian arsitek di sekolah-sekolah arsitektur, yang diutamakan adalah hal-hal teknis, bahwa mahasiswa arsitektur harus tahu tugas dan tanggung jawab menjadi seorang arsitek, hak dan kewajiban arsitek, juga kode etik arsitek, apa yang boleh dan tak boleh dilakukan oleh seorang arsitek, yang harus memahami seputar estetika, budaya dan masalah sosial, sehingga memiliki kompetensi dan kualifikasi yang tinggi sebagai seorang arsitek profesional. Hal-hal tersebut memang sangat penting dipahami oleh mahasiswa, tetapi justru memunculkan pertanyaan baru, “Seberapa penting hal tersebut?” dan “Apakah ada yang lebih penting dalam belajar mengenai kehidupan profesi seorang arsitek?”. Keprofesian arsitek kemudian menjadi agak membosankan karena “berjarak” dengan realitas mahasiswa sendiri dan menjadi pengetahuan yang cenderung normatif belaka.

Pameran ini berangkat dari 3 hal penting yang ditelusuri dari penyusunan silabus, proses perkuliahan, hingga penyusunan pameran “Menjadi Arsitek”.

Pertama, sebetulnya mahasiswa juga harus tahu bagaimana arsitek sebagai seorang manusia. Bahwa menjadi arsitek pada hakekatnya adalah menghayati untuk menjadi manusia yang lebih bermartabat. Proses menjadi (becoming) dan penghayatan inilah yang perlu ditekankan. Mahasiswa bisa mengetahui bagaimana kehidupan arsitek secara keseluruhan, sebagai hidup yang holistik dan sekaligus kontekstual. Tidak hanya seluk-beluk kehidupan arsitek tetapi mungkin juga sebagai seniman, petani, aktivis sosial, agamawan, warga masyarakat biasa, bahkan pemberontak atau pecundang yang berurusan dengan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, penghayatan akan kehidupan arsitek menjadi lebih mendalam dan personal, merasuk ke dalam alam bawah sadar para mahasiswa. Mahasiswa diajak untuk berimajinasi, merefleksikan, menganalisa, dan membuat interpretasi atas buku-buku yang dibaca, atas film-film yang ditonton, yang diharapkan akan bisa merangsang penghayatan mereka secara lebih mendalam atas profesi ini, juga lebih kontekstual dengan realita yang ada di lingkungan mereka.

Kedua, mahasiswa perlu untuk tidak kehilangan suara hati, identitas, dan karakter dirinya. Mahasiswa diberikan sebuah “pancingan” dengan tugas-tugas yang lebih memicu kreativitas, misalnya: bagaimana jika manusia itu, arsitek itu, adalah “dirinya sendiri” dan membayangkan akan jadi apa manusia itu 20 tahun kedepan. Di sini mahasiswa akan diajak untuk berimajinasi dan membuat interpretasi atas diri mereka sendiri.

Ketiga, pameran ini adalah bentuk apresiasi terhadap hasil kerja keras dari peserta. Sebagai sebuah bentuk harapan agar peserta semakin termotivasi untuk mengembangkan karakter dirinya dan tidak patah semangat dalam memahami, mengalami, dan menghayati proses menjadi arsitek. Runtutan Esai, cerita, gubahan karya seni, sampai 59 buku yang diluncurkan bersama-sama menjadi sebuah retrospeksi mahasiswa secara personal, bahwa mereka memiliki cara yang berbeda-beda dalam mencintai profesi yang satu ini (baca: arsitek).

Menjadi arsitek adalah proses menjadi manusia
dengan meng-hayat-i
kehidupan itu sendiri

_________________________

Saturday, 16 December 2017

11.00 “Mengalami Keprofesian”
lecture by Rifandi S. Nugroho and Bangkit Mandela

18.00 Menjadi Arsitek
lecture and wayang arsitek by Anas Hidayat

opens every Saturday and Sunday until 6 January, 2018
10.00AM-06.00PM

OMAH Library
Jalan Taman Amarilis F2/15-16
Taman Villa Meruya, West Jakarta

****

Would you like to comment?

Leave a Reply