Sounds of OMAH #08 – Current Practice of Community Based Architecture

Sounds Of OMAH
Praktik Arsitektur Berbasis Komunitas Hari Ini

Membangun hunian baru yang lebih baik tidak serta-merta mengubah hubungan sosial menjadi lebih baik. Itu adalah dua jenis kerja yang berbeda, sekalipun terkait. Kaum miskin di tiap-tiap perkampungan kumuh kota besar tidak akan bertahan tanpa bersatu sebagai entitas kolektif. Berjuang sendiri-sendiri, dengan mengandalkan tenaga seorang diri atau satu keluarga saja, akan membuat mereka digulung oleh kenyataan ekonomi-politik urban. Mereka hanya mungkin bertahan sebagai kolektif.[1]

Sounds Of OMAH adalah salah satu seri kegiatan OMAH Library dalam format diskusi dua arah untuk membedah satu topik yang spesifik. Pada seri Sounds Of OMAH yang pertama di tahun 2017 ini, tema yang diangkat adalah praktik arsitektur berbasis komunitas.

Praktik arsitektur berbasis komunitas menempatkan peran arsitek pada lahirnya perubahan sosial melalui kerja arsitektural dengan melibatkan warga dalam pengambilan keputusan. Permasalahan permukiman di kampung-kampung maupun tempat yang terbengkalai belakangan ini mendorong lahirnya beberapa jaringan arsitek untuk turun menangani permasalahan tersebut. Praktik arsitektur berbasis komunitas menjadi alternatif solusi permasalahan tersebut, meskipun mengalami kembang kempis sepanjang perjalannya.

Pada Sounds of OMAH kali ini, kita akan membedah praktik arsitektur berbasis komunitas, membaca tantangan dan kemungkinan yang dapat lahir dari praktik arsitektur berbasis komunitas ini. Diskusi ini bersifat terbuka, baik mahasiswa, akademisi, maupun praktisi kami undang untuk memberi beragam perspektif dalam membedah topik ini. Beberapa kawan yang akan hadir dalam diskusi ini antara lain para mahasiswa dari beragam universitas, Marco Kusumawijaya, Elisa Sutanudjaja, Andrea Fitrianto, Kamil Muhammad, Brahmastyo Puji, Susiadi Wibowo, Sylvania Hutagalung, dan para restless spirit. Diskusi akan dimoderatori oleh Gregorius Giovanni Gerard dan Rifandi Septiawan Nugroho.

Acara ini diselenggarakan pada:

Sabtu, 18 Februari 2017
14.00-18.00
OMAH Library, Jl. Taman Amarilis 2 Blok F2 No. 15, Tangerang

Harap lakukan reservasi sebelum datang dengan mengisi form di tautan berikut ini:
https://goo.gl/forms/5BgTgFBgbzPxcNC63

Sounds Of OMAH
Current Practice of Indonesian Community-Based Architecture

Building new and better settlements doesn’t ultimately result in a better social relationship. They are visibly distinct kinds of service, yet related one another. Poor community, dwelling in each urban slum might not bear another day without uniting as a collective entity. Individually struggling, by relying solely on their own and/or family, will have them rolling in the urban economic and politic reality. They may only stay as a collective.1

Sounds of OMAH is one of OMAH Library series of events, brought in a two-way discussion format to dissect a particular topic. In the first 2017 Sounds of OMAH, we lift up the topic of community-based architecture practice.

Community-based architecture practice puts the role of the architect in the birth social change through work of architecture, having the civilians participating actively in taking relating actions. Complications of settlements in kampongs, or even abandoned places, have recently encouraged establishments of a few of networks of architects to deal the problems. Community-based architecture practice serves as an alternative solution to it, even though often virtually faces upside-downs.

In this Sounds of OMAH, we will discuss the community-based architecture practice, looking for the threat and the opportunity for this practice. The discussion will be open for everyone, from students, academicians, and practitioners are invited to share their point of view about this topic. Some friends who will come to the discussion are students from several universities, Marco Kusumawijaya, Elisa Sutanudjaja, Andrea Fitrianto, Kamil Muhammad, Brahmastyo Puji, Susiadi Wibowo, Sylvania Hutagalung, and Restless Spirit. The discussion will be moderated by Gregorius Giovanni Gerard and Rifandi Septiawan Nugroho.

The discussion will be held on

Saturday, 18 February 2017
14.00-18.00
OMAH Library, Jl. Taman Amarilis 2 blok F2 no.15, Tangerang

Reservation are required, please click this link below:
https://goo.gl/forms/5BgTgFBgbzPxcNC63

[1] Martin Suryajaya, 2016. sumber: http://blog.asf.or.id/…/tantangan-arsitektur-partisipatoris/

Would you like to comment?

Leave a Reply