Mengintip The Guild

Tulisan ini saya buat di pojok sebuah warnet di kawasan depok, setelah menghabiskan seminggu lebih sedikit berguru pada The Guild, -tempat saya bekerja dan (semoga) laboratorium baru untuk berbagi.

The Guild, dalam bahasa inggris diartikan sebagai:

“a medieval association of craftsmen or merchants, often having considerable power.”

Bagi saya, ini merupakan pandangan yang mengintimidasi. Sejak Middle Age, para freemanson adalah mereka yang berlindung dan berkarya dibawah jubah gereja. Mereka yang bertanggung jawab untuk membentuk hegemoni, dengan mengejawantahkan kuasa Tuhan di dunia dalam bentuk bata dan menara. Sementara mengingat pembentukan kuasa via Arsitektur seringkali berkorelasi dengan penghancuran pengetahuan (ex: great wall of china and book burning). Saya jadi bertanya, apakah pustakawan punya andil dalam dunia para tukang batu?

Namun, pengertian kedua yang lebih romantis, menempatkan posisi The Guild sebagaimana ia terbangun dalam benak saya;

“an association of people for mutual aid or the pursuit of a common goal.”

Jika hendak bicara cepat (mengingat argo warnet) tentang The Guild, saya menempatkan diri sebagai orang luar. Menilik buku Rites of Passage (jika melihat komunitas arsitek sebagai suku adat), saya tengah berada dalam situasi liminal. Sementara itu bukan hal yang baik untuk bekerja, situasi liminal atau subjek-diluar-lingkar, adalah situasi paling aman untuk menilai dan mengategorikan sesuatu.

Namun, seperti yang saya katakan, seminggu bukanlah usia yang cukup untuk mengenali perguruan ini. The Guild yang saya mengerti dan raba sedikit demi sedikit, melalui kabin perpustakaan yang terkandung di dalamnya, meruntuhkan makna dari yang pertama. Para manusia The Guild bukanlah mereka yang bergumul dibalik hegemoni, tidak kebas hukum maupun kantuk, bahkan masih makan tiga kali sehari. Mereka tidak tampak berkuasa. Siapapun yang tengah belajar, bagi saya tampak seperti orang yang berserah pada proses, bukan sebaliknya.

Ketika saya bekerja di OMAH, -yang masih satu struktur dengan The Guild, rasanya tidak jauh berbeda dengan saat duduk dibawah skylight atrium The Guild. Terlepas dari bahasa arsitekturnya yang memang senada dan arus manusia yang sama, The Guild secara keseluruhan bicara tentang hubungan setara.

Hubungan itu muncul dalam proses komunikasi penghuni. Siapapun, boleh makan bersama disana dalam satu meja. Siapapun, saling mengenal satu sama lain. Dan seterusnya dapat dibayangkan sendiri dalam analogi serial keluarga cemara.

Hubungan itu tidak berhenti pada cara bicara, tetapi juga buku dan bata. Hal ini membuat saya menyimak kembali hubungan antara arsip dan praktik arsitektur. Dalam perabaan selama satu minggu, hubungan keduanya semakin menampak. Arsitektur adalah yang terbangun sementara arsip me-reka ulang apa yang dibangun. Kondisi ini, seringkali dilewatkan dalam diskursus arsitektur. Ketika suatu karya misalnya, lewat ditilik sesaat tanpa proses pengarsipan yang baik, sehingga menghilangkan kesempatan untuk menemukan hal yang sudah dilakukan, atau melupakan apa yang bisa diperbaharui. Pada akhirnya, seperti yang saya setujui dalam salah satu indikasi OMAH, pengarsipan dan diskursus berguna untuk mempercepat kurva pembelajaran dengan menghindari pengulangan kesalahan.

Apa yang akan saya pelajari masih banyak, dan tulisan pertama ini sebagai garis awal tentang bagaimana proses transisi seseorang (saya) dalam ruang antara praktik, arsip, dan apresiasi.

Bangkit