Intimacy ARA Studio, eksperimen metode pameran arsitektur by Rifandi S Nugroho

Wawancara singkat dengan Ayos Purwoaji, Kurator pameran Intimacy ARA Studio

Pada pertengahan bulan Mei lalu, saya mendatangi pameran Intimacy ARA Studio yang digarap oleh tandem saya waktu pengerjaan pameran Harjono Sigit di Surabaya pada tahun 2015. Pameran ini berlangsung sejak tanggal 20 Mei hingga 3 Juni 2016. Bertempat di sebuah bangunan eks-rumah kolonial yang kini direnovasi menjadi markas baru bagi biro arsitek ARA Studio, biro konsultan muda yang cukup produktif dalam melakukan praktik arsitektur di Surabaya. Dalam merayakan pencapaian sekaligus kepindahan di rumah barunya, ARA Studio mengadakan pameran ini dengan menunjuk Ayos Purwoaji sebagai kurator.

Tema Intimacy dipilih oleh Ayos untuk mengkurasi pameran ini. Tema ini diangkat dan diterjemahkan sebagai metode, mulai dari proses kurasi hingga presentasi di dalam pameran. Bertujuan untuk melihat ARA Studio bukan dari objek rancangan secara fisik yang sudah dihasilkannya, tetapi ingin lebih dekat dan jujur lagi, menggambarkan dinamika dan tegangan yang dilewati oleh konsultan muda ini.

Sedari temanya saja sudah terdengar cukup abstrak. Begitu pula isi pamerannya. Objek yang ditampilkan tidak menunjukan sama sekali portfolio utuh proyek ARA Studio, seperti apa yang ada di bayangan saya sebelum datang ke sana. Benda yang dipamerkan bukan berupa panel gambar bangunan atau maket proyek yang biasa ditampilkan pada pameran arsitektur pada umumnya di Indonesia. Secara makro, sekuen ruang pameran ini dibagi menjadi tiga.

Ruangan pertama dibuat khusus untuk menampilkan karya arsitektur dengan cara “bermain”. Medium yang digunakan adalah maket geometri bangunan ARA Studio yang bisa dibongkar pasang semaunya oleh pengunjung, diberi nama ARA Play. Ada juga papertoy dari kertas pra-karya anak SD yang letaknya di depan kantor ARA Studio. Proses pembuatannya melalui lokakarya yang diadakan sebagai satu rangkaian dalam acara ini. Objek lainnya adalah penjelasan tentang proyek ARA Studio, interpretasi pengguna bangunan, dan kritik sendiri dari para principal ARA Studio. Objek ini ditampilkan dalam bentuk aplikasi digital yang untuk mengakses informasinya harus menggunakan sistem scan QR Code terlebh dahulu.

 DSC_0519 (536x800) DSC_0525 (800x536)

DSC_0687 (800x536)

Ruangan kedua dinamakan Open Studio, tempat melakukan lokakarya, presentasi, dan diskusi yang menjadi rangkaian acara selama 3 minggu. Ada tiga objek yang ditampilkan secara tetap, di luar rangkaian acara tersebut, yakni zine wawancara dengan ketiga principal, video kegiatan staff ARA Studio, dan cetakan screenshot group chat ketiga prinsipal ARA Studio; Hermawan Dasmanto, Goya Tamara, dan Erel Hadimuljono. Ruangan ini berisi kekisruhan yang terjadi baik di dalam studio maupun proyek.

DSC_0276 (800x536)

Ruangan ketiga adalah ruang yang paling pribadi bagi para staff ARA Studio. Berisikan artefak-artefak pribadi berupa benda-benda kesukaan mereka. Mulai dari mainan stormtrooper, gitar listrik dan amplifiernya, mixtape lagu kesukaan, buku harian, dan perintilan lainnya. Benda-benda ini dipercaya Ayos mempengaruhi selera dan proses merancang di luar alam sadar.

DSC_0601 (536x800)

Pendekatan yang digunakan Ayos sebetulnya bukanlah hal yang baru, bahkan bisa dibilang sangat biasa ditemui di dalam keseharian praktik studio-studio arsitek di Indonesia. Tetapi justru karena itu, hal yang sangat biasa ini ternyata masih kurang disadari oleh banyak arsitek bahwa menyimpan potensi yang cukup besar sebagai medium penyampaian pengetahuan arsitektur. Ayos Purwoaji melakukan pembacaan terhadap hal yang sangat gamblang itu dan menerjemahkannya ke dalam ruang pamer. Alhasil, pameran ini berlangsung dengan sederhana dan menjadi terkesan “tidak memaksa”. Pengunjung bisa saja tersesat di antara mainan-mainan yang diletakan di sana atau tanpa sengaja duduk berdiskusi pada waktu dan topik yang sudah disiapkan. Jelas sekali bahwa intensi yang diinginkan Ayos lebih mengarah pada alternatif baru penyajian pameran arsitektur ketimbang pengaruhnya pada praktik arsitektur secara disiplin keilmuan.

Hal yang kemudian patut dipertanyakan adalah sejauh mana tingkat efektivitas pameran semacam ini mampu menyampaikan pesan dan gagasan si kurator? Apakah pengunjung yang datang mampu menelan informasi yang diinginkan oleh kurator secara baik? Atau ini hanya sebagai medium eksperimentasi dari si kuratornya saja? Untuk itu saya melakukan tanya jawab singkat dengan bung Ayos terpaut tentang ulahnya tersebut.

Tepat sebelum saya bertanya, justru dia sudah menjelaskan terlebih dulu tentang metode yang digunakan dalam pameran ini.Disebutnya dengan relational aesthetics, sebuah metode dalam pameran karya seni rupa kontemporer yang menekankan kepada apresiasi pengunjung.[1]

Apa itu relational aesthetics?

Itu masalah bagaimana kamu mengapresiasi sesuatu. Ada karya seni dan kemudian kamu menonton, kamu merasa senang, sedih, dan sebagainya itu adalah responmu terhadap karya seni. Pada titik tersebut lah karya seni itu berharga. Itu relational aesthetics. Mereka percaya bahwa karya seni tanpa adanya apresiator itu tidak ada artinya. Akhirnya dari situ muncul kenapa tidak melibatkan pengunjung saja sebagai bagian dari karya seni. Bentuknya macam-macam, ada seniman di New York yang membuka dapurnya di apartemen sebagai karya seni. Ada juga seniman hanya duduk kemudian ada orang datang dan ditatap matanya selama sejam mereka sama-sama nangis. Itulah karya seni sekarang, begitu cair.

Sebenarnya tujuan membuat pameran ini apa sih?

Awalnya aku dihubungi ara studio untuk membuat sebuah pameran. Mereka menginginkan ya pameran karya portofolio begitu. Aku berpikir, kalau pameran karya semacam itu kalian (arsitek) pasti bisa lakukan sendiri kan karena tempatnya pun sudah banyak. Aku coba negosiasikan dan sepakat untuk membuat pameran yang tidak berfokus pada karya, tetapi pada proses. Kenapa tidak pada karya? Karena ARA Studio ini adalah biro yang tergolong muda. Secara pemikiran belum matang secara karakter karya pun belum cukup kuat. Sehingga kalau pameran ini dihadapkan sebagai sebuah monograf aku pikir belum bisa. Kalau cuma pameran portofolio aja itu juga kurang asik. Akhirnya ,kenapa nggak kita drive melalui narasi yang ditampilkan tentang biro yang masih muda itu bergulat dengan segala permasalahan, tegangan, dan kritik yang dihadapinya? Dari situ pameran ini bermula.

Kenapa intimacy? Awalnya aku melihat skala bangunan yang dibuat oleh ARA Studio semuanya masih tergolong intim seperti kafe, rumah, dan bangunan-bangunan skala kecil lainnya. Bukan bangunan high rise atau mix use begitu. Dari situ akhirnya intimacy muncul. Tapi intimacy muncul bukan hanya menjelaskan tipologi karya mereka tapi juga tentang bagaimana kita melihat proses itu sendiri. Itu menjadi kaca mata untuk membaca pameran ini.

Tujuan dari pameran ini sendiri, untuk ARA Studio pastinya publikasi. Tapi di luar itu, buat aku ini menjadi kritikku untuk ARA begitu juga untuk pameran-pameran arsitektur yang selama ini sudah pernah diadakan di Indonesia. Karena pameran arsitektur di Indonesia sebagian besar masih berkutat pada objek, seperti maket, foto karya, hasil 3d rendering, semua fokus pada objek. Pertanyaannya, mungkin gak sih pameran arsitektur itu diabstrakan? Tujuannya sebenarnya bisa banyak layer begitu. Tinggal dari mana kamu bertanya? Kalau buat ARA memang publikasi, tapi bagi aku ini sebagai modus kritik. Buat modus kritikku terhadap ARA Studio dan termasuk modus kritik bagi diriku sendiri untuk pameran Harjono Sigit sebelumnya.

Tadi mas Ayos mengatakan intimacy ini dipilih sebagai metode. Maksudnya metode yang digunakan dalam mengkurasi atau metode dalam pamerannya saja?

Dua-duanya, proses kurasi dan pamerannya.

Itu aplikasinya bagaimana?

Ini menarik. Kalau kita mau memahami proses itu kita harus intim, tidak bisa hanya melihat dari tampaknya saja. Intimacy muncul salah satunya dari bagaimana aku mendekati ARA. Contohnya ada di beberapa objek. Salah satunya arsip group chat mereka, itu contoh bagaimana saya meyakinkan ARA untuk bisa mengakses percakapan pribadi mereka dengan klien untuk suatu proyek dari awal hingga selesai. Itu kan cukup private dan sensitif bagi beberapa arsitek. Tapi saya coba meyakinkan mereka bahwa ini adalah sebuah objek yang penting untuk membicarakan sebuah proses. Di sana ada 400 lembar screenshot group chat mereka untuk proyek journey, sebuah restoran dimsum, itu yang kami dapatkan dan kami tampilkan. Kedua, dari zine. Saya sebagai kurator juga terlibat dalam keintiman dengan mereka. Saya mewancarai ketiga prinsipal di tiga tempat yang berbeda dan waktu yang berbeda. Di situ saya membicarakan sesuatu yang sangat personal dengan mereka, kami membicarakan kegagalan mereka di masa lalu, pandangan mereka, obsesi mereka, sangat personal. Aku pikir obrolan ini adalah cara yang paling mudah untuk menangkap proses. Selain itu, termasuk juga di bagian yang paling belakang, bagaimana aku meyakinkan staf-staf ARA untuk memajang barang-barang pribadi mereka. Kenapa aku merasa penting? Karena buat aku itu ada hubungan resiprokal antara apa yang kamu sukai dan apa yang kamu hasilkan. Kamu suka jazz, saat mendesain pasti ada unsur jazz. Itu dari sudut pandang intimacy secara proses.

Kedua, sebagai metode pembacaan karya ini. Itu aku hadapkan di depan. Ada ARA Play, tablet interaktif, dan maket anak SD. Intimacy di sini pengunjung datang dan bisa berinteraksi dengan benda-benda di ruang pamer. Menurutku itu penting, pengunjung menjadi tidak berjarak lagi dengan objek pameran. Itu menjadi salah satu kritikku untuk pameran arsitektur yang selama ini terjadi di Indonesia.

Apa kesulitan yang dihadapi dalam proses kurasi?

Ini serba tiga ya. Ini ada 3 prinsipal. Diwawancarai di 3 tempat yang berbeda di 3 waktu yang berbeda. Diwawancarai masing-masing 3 kali. Bagi aku itu semacam layer. Pertemuan pertama kalau kita baru pertama ngobrol, orang masih sungkan untuk membuka semua informasi. Tapi begitu masuk obrolan yang kedua dan ketiga, itu bisa lebih terbuka. Itu cukup time consuming. Kendalaku menyesuaikan waktuku dengan mereka. Makanya, objek zine termasuk yang paling telat. Kalau untuk yang lain, aku punya cukup waktu untuk berdebat dengan mereka. Ada proses tarik ulur, negosiasi yang aku lakukan.

Bagaimana bentuk objek pameran dirumuskan seperti ini? Maket ara play, qr code, openlab, artefak pribadi?

Dari awal yang sudah ada itu zine dan ARA Play. Karena ya itu tadi, pameran ini mengarahnya ke arah yang abstrak karena kita membicarakan hal yang abstrak. ARA Play ini kritikku untuk pameran arsitektur Harjono Sigit yang aku buat sendiri. Di situ, maket tidak boleh disentuh tapi pengunjung juga masih punya tendensi untuk menyentuh karya. Akhirnya maket itu rusak, tangganya copot, dindingnya kotor, dan sebagainya. Dari situ aku berpikir kenapa nggak sekalian aja pengunjung boleh berinteraksi dengan maket. Orang bisa merespon, mengintervensi. Akhirnya muncul ARA Play.

Kalau zine aku terinspirasi dari Hans Ulrich Obrist, karena dia sering membuat seri buku conversation series. Menurutku itu metode yang sangat oke untuk melihat pandangan seseorang, keyakinan terhadap sesuatu, proses tak kasat mata. Makanya aku dari awal sudah menentukan itu.

Di tengah perjalanan ide-ide itu berkembang. Tablet interaktif muncul ketika aku pulang dari Jepang, melihat sebuah pameran Tugas Akhir yang menggunakan itu. Itu sangat menginspirasi karena di situ pengunjung punya sebuah kebebasan untuk mengakses seluruh informasi yang dia inginkan. Selama ini dalam pameran arsitektur sendiri kan seluruh informasi ada di dinding dan seakan-akan kita dipaksa untuk melihat seluruh informasi ini. Karena ini ngomongin intimacy yang membicarakan tegangan antara arsitek dan pengunjung, maka harus ada kebebasan yang diberikan kepada pengunjung untuk mengakses informasi apa yang mereka inginkan.

Terakhir adalah open lab, ini datangnya belakangan setelah ngobrol dengan Gugun. Karena ini pendekatannya menggunakan relational aesthetics kenapa enggak kita menisakan sebuah ruangan yang awalnya itu adalah ruang kosong dan diisi sebagai studio tempat staff ARA bekerja. Kita bisa melihat staff-staff ARA yang bekerja, karena ini tentang proses kan. Tapi mereka tidak sanggup, akhirnya setelah negosiasi ruangan yang kosong itu dikelola sendiri oleh kegiatan yang disi oleh anak ARA yang namanya open lab. Akhirnya kegiatannya bisa macem-macem Karena si Iwan suka jalan-jalan akhirnya dia buat tour pecinan, karena si Goya suka sama pendidikan akhirnya dia meminta ada diskusi tentang pendidikan, arsitektur, dan sebagainya. Ada staff ARA perempuan seneng masak akhirnya buat potluck. Itu akhirnya ada negosiasi yang cair sih, mereka mau apa kita mau apa. Ada Galih yang dari mahasiswa udah suka papertoy. Dia buat workshop pembuatan maket dari kertas, dan itu sangat pas dengan konteks kantor baru ini yang terletak di depab sekolah SD. Intinya harus ada kegiatan yang merepresentasikan antara ARA dan lingkungan sekitar.

Berkali-kali mas Ayos menyebutkan tentang pameran arsitektur yang selama ini berorientasi pada produk. Apa yang salah dengan hal tersebut? Pameran arsitektur menceritakan serangkaian informasi di balik karya, representasinya dengan apa itu hal lain. Latar belakangnya juga bisa menarik. Maket bisa menjadi representasi yang baik jika dia punya pemikiran yang baik di belakangnya.

Awalnya aku membaca sejarah kultur pameran di Indonesia. Sempet ngobrol sama Robin. Dari situ aku sempet membaca dari beberapa sumber. Ternyata format pameran arsitektur yang dilakukan hingga hari ini itu asalnya dari Bauhauss. Ketika ada tugas akhir, mahasiswa membuat pameran. Itu isinya berisi tentang informasi tugas akhir dan elaborasi kenapa bentuknya seperti itu.

Dari situ terus aku membaca satu buku, Troy Conrad Therrien, salah satu kurator arsitektur di Guggenheim.[2] Dia bilang “pameran arsitektur itu adalah sebuah modus terbaik untuk melakukan eksperimentasi.” Dari situ aku mulai mikir kok pameran arsitektur selama ini kok gitu-gitu aja ya. Formatnya ya gitu. Dengan maket, papan informasi, gambar bangunan, dan sebagainya. Apakah harus seperti itu formatnya? Dari situ aku udah menemukan format pameran arsitektur intimacy ini.

Ini di Indonesia ya ceritanya?

Iya di Indonesia. Aku akhirnya menemukan format intimacy ini dan agak abstrak. Dari situ aku ngobrol sama beberapa orang, mulai dari kamu, Pak Realrich, Rendy, nah itu akhirnya dapat banyak masukan. Menarik waktu ngobrol sama Rendy waktu dia baru pulang dari Jepang, dia habis nonton pameran Gehry. Ternyata dia juga ngomongin proses, dia majang maket studi yang dijejerin dari awal sampe jadi. Itu kan tentang proses dan itu representasinya lewat maket. Setelah aku ngobrol sama dia tentang format pameran yang lebih cair ini. Dia bilang ini menarik, tapi apa yang batasan yang membuat bahwa pameranku ini adalah pameran arsitektur? Aku tanya balik apakah sudah ada konvensi yang memberikan batasan pameran arsitektur seperi apa? Aku rasa saat belum ada batasan ini justru ada waktu untuk bereksperimentasi, seperti kata Therrien tadi. Toh pada akhirnya sebetulnya yang ditampilkan pada pameran arsitektur sebenarnya kan adalah representasinya, bukan benda aslinya. Bagaimana kita memandang pameran arsitektur itu harusnya berbeda dengan kita memandang pameran benda seni. Kalau benda seni itu bendanya sendiri yang dipamerkan. Semisal rumah Andra Matin, itu tidak mungkin dimasukan ke galeri. Nah dari karya asli ke representasi itu saja sudah ada jarak, aku pikir ada ruang yang cukup lebar untuk kita melakukan eksperimentasi. Menurutku itu yang perlu dilakukan. Karena sayang kalau kita hanya harus berkutat pada format-format yang dianggap pakem. Ya menurut aku ga ada juga format yang membakukan itu. Dia bisa sangat naratif, eksploratif, imajinatif, itu bebas.

Terus menurut mas Ayos pameran ini pameran arsitektur atau bukan?

Iya aku menyebut pameran ini pameran arsitektur.

Bagaimana kamu memanfaatkan medium kuratorial demi menyampaikan uneg-uneg tentang arsitektur khususnya di dalam pameran intimacy ini?

Kalau uneg-uneg mengenai arsitektur sebagai sebuah disiplin sih nggak ada. Karena sejak awal ini merupakan pameran tunggal dari biro ARA Studio, jadi pembacaannya nggak bisa meluas. Narasi besar yang dibawakan tetap menyorot proses, terutama bagaimana sebuah biro perancangan yang masih muda tumbuh. Tapi dari praktik-praktik yang pernah dilakukan ARA Studio, aku bisa membawanya ke hal-hal lain, seperti bagaimana hubungan antara media dan biro perancangan? Bagaimana hubungan antara arsitek – klien – tukang – bangunan terjadi? Seberapa jauh jarak yang muncul antara lulusan universitas dengan praktik kerja sebuah biro perancangan? Atau yang terpenting adalah bagaimana sebuah biro arsitektur menempatkan diri di tengah-tengah komunitas di lingkungannya? Itu mengapa dalam program pararel pameran ini, kami bikin workshop maket buat anak SD, soalnya kantor ARA Studio yang baru ada di depan sekolah SD. Mereka, murid-murid dan gurunya seneng banget, malah minta diadakan lagi. Hehehe.

Apakah metode yang sama bisa dipakai di pameran arsitektur lain yang konteksnya bukan intimacy misalnya, bagaimana mungkin bisa dilakukan oleh arsitek? Atau butuh orang di luar itu?

Mungkin karena latar belakangku yang bukan arsitek, jadi aku punya ruang untuk menyajikan arsitektur dengan sudut pandang yang berbeda. Harusnya arsitek juga bisa melakukan ini. Pameran ini bisa sangat abstrak karena narasi yang ditampilkan juga abstrak. Hal-hal lain di dalam arsitektur juga banyak yang terdiri dari narasi non materil, misalnya parametrik sebagai pola pikir, itu menurut aku udah abstrak juga. Menurut aku masih banyak ruang-ruang di dalam studi arsitektur yang bisa didekatkan dengan cara abstrak seperti itu.

Katakanlah di titik ini kamu cukup berhasil untuk mengenalkan metode baru dalam pameran arsitektur, dengan menggunakan relational aesthetics. Lalu apa relevansinya terhadap praktik arsitektur sendiri?

Sudah aku bilang, kalau yang dimaksud adalah arsitektur sebagai seabuah disiplin, barangkali memang pameran ini nggak bisa kasih kontribusi apa-apa. Pameran ini lebih menyoroti gimana sebetulnya arsitektur itu dipresentasikan dan dipersepsikan, terutama di dalam ruang pamer. Kalau selama ini lebih ditekankan pada obyek, hasil akhir, atau mengedepankan metode atau sejarah bagaimana sebuah bangunan dirancang, nah pameran ini mencoba menarik lebih jauh lagi: bagaimana menampilkan proses berarsitektur dalam konteks yang lebih luas? Gimana menampilkannya dalam ruang pamer?

Dalam pameran ini respon pengunjung gimana?

Akhirnya muncul beberapa lapisan pemahaman dari masing-masing individu yang hadir ke pameran ini. Beberapa anak kecil datang sama orang tuanya dia main ARA Play puluhan menit sementara orang tuanya keliling. Kalau orang dewasa mungkin cenderung lebih suka baca yang zine, karena itu kan lebih mendalam, personal. Kalau praktisi mereka suka lihat chat archive. Itu sebagai dinamika proyek yang biasa mereka lewati dan itu muncul di dalam ruang pamer. Itu lapisan yang pastinya beragam karena latar belakang orangnya juga beragam. Ada yang suka sama mejanya buatan Galih, malah tanya tentang fabrikasinya gimana.

Pameran ini ingin menampillkan tegangan yang terjadi, tapi ada beberapa bahasa yang tidak cukup mudah untuk dibaca. Misalnya hubungan antara artefak pribadi dan selera rancangan. Dari mana melihat hubungannya?

Itu kan tidak serta merta langsung terlihat. Jadi bukan misalnya kamu suka starwars rancanganmu jadi kayak star wars. Tapi itu pasti tanpa disadari sangat mempengaruhi dan sangat subtil. Jadi menurutku tidak perlu ditampilkan juga.

Setelah dua kali mengkurasi pameran arsitektur, apa pencapaian yang sudah dilewati? Apa yang dianggap berhasil dan tidak berhasil.

Aku belum bisa jawab ya. Tapi yang pasti dari tiap pameran muncul gagasan baru lagi. Pameran ini merespon pameran pertama terlepas dari baik buruk berhasil tidaknya. Terus dari pameran ini juga aku punya gagasan yang lain lagi. Mungkin gak sih pameran arsitektur dibikin pameran keliling gitu, karena selama ini kan pameran arsitektur hadir di satu tempat dengan jangka waktu yang spesifik dan selesai. Orang yang mengakses pun terbatas. Mungkin gak sih dia dibuat bisa berpindah, seminggu di kota A kemudian pindah ke kota B. Pameran arsitektur yang aku pahami itu kan modus penyebaran pengetahuan. Ketika sebuah pameran itu hadir pada sebuah ruang dan waktu yang eksklusif, itu cukup membatasi penyebaran pengetahuan itu. Walaupun beberapa pameran muncul buku dan katalog yang baru, tapi aku masih berpikir bagaimana pamerannya ini bisa dibawa.

Kalau di luar arsitektur sudah banyak?

Banyak. Pameran Picasso pindah-pindah, galeri nasional juga beberapa kali buat.

Kalau pamerannya yang pindah apa yang spesifik dengan arsitekturnya?

Aku masih belum tau. Masalahnya gini, satu pameran umumnya menempati satu ruangan yang spesifik. Di situ ada respon terhadap ruang, harus ada formulasi bagaimana membuat pameran ini beradaptasi pada beragam jenis ruang yang dihadapi. Aku gak mungkin bawa maket anak SD ini ke Bali karena gak ada konteksnya. Itu menurutku harus diusahakan, kalau memang mau pameran ini sebagai modus penyebaran pengetahuan.

Dulu ada pameran international style MoMA yang keliling juga, penyebaran informasinya luas banget keliling amerika selama bertahun-tahun. Akhirnya itu jadi mahzab yang penting, orang banyak percaya pada kuratornya. Justru menurut aku itu yang pentingnya sih, tempat orang mendiseminasikan gagasan dan pengetahuan. Tanpa itu ya arsitektur hanya sekedar ada saja.

Mungkin pengetahuan pameran arsitektur itu masih belum umum di Indonesia?

Sebetulnya karena tradisi di Indonesia masih sangat muda. Kalo misalnya kita tarik ke belakang, mungkin AMI salah satu yang cukup berpengaruh dan gagasannya tersebar luas. Itu pun sebenarnya belum punya kurator loh. Menariknya, setelah Indonesia muncul di Venice Biennale seperti muncul babak baru. Sebelumnya Robin pernah cerita waktu CP Biennale di Jakarta, itu kuratornya si Marco, dia memasukan beberapa nama arsitek di situ. Apakah itu bisa dibilang pameran arsitektur? Itu kan masih bisa berkembang. Bisa dikaji.

Jadi setelah ini mau buat pameran arsitektur apa lagi?

Belum tau, tapi yang pasti modelnya moving architecture itu.

Apakah ada pesan khusus atau kritik atau dampak yang kamu harapkan setelah pameran ini?

Tradisi pameran arsitektur di Indonesia masih sangat muda ya, jadi menurutku masih banyak yang bisa dilakukan, termasuk meluaskan batasan-batasan itu tadi. Di situ pameran arsitektur nggak cuma berhenti jadi ajang promosi, tapi juga uji gagasan dan eksperimentasi.

 

Baca juga

[1] Bourriaud, Nicolas. Relational Aesthetics. [Dijon]: Les Presses du réel, 2002. atau http://www.tate.org.uk/learn/online-resources/glossary/r/relational-aesthetics 

[2] https://www.guggenheim.org/blogs/author/troy-conrad-therrien