Tindakan Untuk Memberi Dampak by Realrich Sjarief

150301 Maret, Pekanbaru “Beberapa orang, ketika membantu orang lain, selalu mencari kesempatan untuk mendapatkan balasan. Beberapa orang lain tidak demikian, tapi mereka tetap memyadarinya-tetap menganggapnya sebagai utang. Namun, beberapa orang lain sama sekali tidak berpikir seperti itu. Mereka mirip tanaman anggur yang menghasilkan buah anggur tanpa meminta imbalan… setelah membantu orang lain…. Mereka pergi melakukan hal lain…. Kita harus seperti itu.-Marcus Aurelius, Kaisar Romawi”

Beberapa saat yang lalu saya diundang oleh mas Parlindungan Ravelino untuk sharing karya dan profesi arsitek di Pekanbaru Riau. Acaranya adalah NBA yaitu Nongkrong Bareng Arsitek yang digagas oleh Parlindungan Ravelino, Dedi Ariandi, dan kawan – kawan. Acara berlangsung sampai jam 11.30 malam, dihadiri oleh sekitar 35 orang termasuk saya sendiri. Mas Parlindungan Ravelino dan Mas Dedi Ariandi, saya biasa memanggil orang dengan mas hanya karena kebiasaan, dan ada keinginan untuk menghormati orang – orang yang baru berkenalan atau baru bertemu, untuk kemudian lebih dekat berkenalan, mengetahui kemudahan dan kesulitan yang dihadapi.

Setelah berbagi di acara Nongkrong Bareng saya berpikir sebuah komunitas selayaknya berkumpul, awal dari hubungan persaudaraan yang lebih luas. Ia jauh memposisikan dirinya dari hal – hal yang menjemukan seperti kesombongan, keserakahan, atau hal – hal yang bersifat narsistis, ataupun hanya sekedar tampil populer. Ia adalah tempat untuk bertukar pikiran, dua belah pihak, memberi dan menerima, tempat untuk berargumen secara terbuka yang menghindarkan dirinya dari ketertutupan dan keangkuhan akan dirinya yang terbaik, terbenar, terkenal, dan segala ter yang ada. Diri ini ingat beberapa tahun yang lalu, bertemu dengan Profesor Eko Budihardjo Almarhum, beliau memberikan pesan bahwa, orang yang besar adalah orang yang bisa menertawakan dirinya sendiri oleh karena itu mungkin tertawa bersama – sama dengan kesantaian layaknya sebuah keluarga akan dibutuhkan.

Mark Jarzombek membahas tentang peran Johnson di dalam sejarah, bahwa ia berperan sebagai satu sosok dalam krisis yang menjadi pusat dari sekolah dalam artian pembelajaran bersama, untuk menelurkan satu topik membahas, kemudian memikirkannya kembali yang tidak terbatas pada pendidikan yang sifatnya formal dimana arsitektur mampu menembus batas. Philip Johnson, ia berperan dalam mendukung arsitek – arsitek muda, dalam karya mereka dalam pameran dua pameran : Modern architecture : international exhibiton dan Deconstructivist architecture. Dari situlah saya berpikir akan hal – hal yang sederhana dirintis oleh mas Parlindungan dan Mas Dedi Ariandi di Pekanbaru akan membawa efek yang mewabah, mendalam, dan membumi akan hadirnya arsitektur di Pekanbaru yang lebih baik.

Dalam menjalani semua yang terkait komunitas, akan ada banyak sekali godaan, karena posisi penggembala di kawanan ternak – ternaknya, atau posisi ketua suku yang disematkan oleh anak – anak mereka, atau pimpinan yang ada di tangan mereka berdua sebagai penggagas, kordinator, ataupun posisi pekerja yang sukarela tanpa dibayar. Godaan ini bisa berarti hal – hal yang baik untuk reputasi mereka, namun juga bisa terjadi rintangan yang terjal, dari hal – hal yang tidak terukur untuk bisa merubah apa yang kita anggap sebuah paradigma, pola pikir. Itulah esensi dari seorang pemberi (giver) di dalam buku karya Adam Grant berjudul Give and Take, bahwa untuk bisa sukses kita perlu untuk membantu orang lain, untuk bisa dibantu, kita perlu membantu orang lain.

Buku AMI (Arsitek Muda Indonesia) yang pertama, yang diluncurkan di tahun 1996 bertemakan penjelajahan mungkin sudah berhasil merubah pola pikir masyarakat yang mungkin dinilai kurang menghargai profesi arsitek, disinilah AMI angkatan pertama, mendobrak dengan berpameran, berkumpul, berargumentasi untuk kemudian memperkenalkan arsitek pada khalayak umum. Hal ini disusul buku AMI kedua kedua yang kemudian mendobrak dengan identitas yang membumi, sederhana, ledakan arsitektur yang lebih fungsional dan lepas terhadap sterotipe. Kemudian mungkin Jong arsitek sebagai kelompok forum Arsitek muda lanjutan kemudian memakai istilah Jong Arsitek untuk wadah eksistensial anak – anak muda yang ingin tampil untuk menunjukkan karyanya dimana para punggawa, kordinator dan pimpinan dari masing – masing pergerakan berseluncur untuk mengubah paradigma, pola pikir.

Dari yang saya nikmati dari perjalanan di Pekanbaru ini (disini saya mengambil kata menikmati, karena saya betul menikmati berbagai paradoks persoalan yang ada disini dengan berbagai elemen pembentuk komunitas arsitektur). Disinilah saya mendapatkan wajah lain dari proses berarsitektur di Indonesia, yang jauh dari kesan formal, tata cara yang sederhana, namun mampu memberikan ledakan yang berbeda dengan kota – kota besar di Jawa, inilah yang menunjukkan wajah pluralistis Indonesia keindahannya yang bisa didefinisikan dengan lokalitas yang sebenarnya itu identik dengan pribadi yang menggagas, menjalani, mengalami keterbatasan, perbedaan definisi mengenai arsitektur dimana selalu ada perbedaan – perbedaan dalam diskusinya mengenai kriteria mendekati ideal ataupun Ada yang menganggap profesi ini penting, adapula yang tidak, itulah sebuah fenomena yang pasti proses yang dialami oleh teman – teman di daerah akan berbeda dalam tatanan masyarakat karena pemahaman klien, masyarakat terhadap arsitektur tidak sama.

Oleh karena itu dengan energi yang dikeluarkan selain hanya berpraktek saja, di Pekanbaru ini, bisa dirasakan satu usaha untuk menggali, menjawab kegelisahan untuk proses berarsitektur yang lebih baik yang akan menghasilkan arsitektur yang lebih baik di Pekanbaru dengan standar perancangan yang lebih baik, prinsip desain kreatif dan memecahkan masalah,dan pada akhirnya mungkin penghargaan untuk profesi arsitek yang lebih baik. Terima kasih sudah diundang Mas Parlindungan Ravelino, Mas Dedi Ariandi, dan teman – teman Nongkrong Bareng. Diri ini berpikir Omah di Jakarta , satu perpustakaan yang dirintis untuk para jiwa yang muda, menemukan saudaranya justru di Pekanbaru, satu tempat yang tidak terduga.

Satu paragraf yang ditulis oleh Adam Grant mungkin mewakili pengalaman satu hari terakhir ini untuk menutup tulisan ini.

“Kita menghabiskan sebagian waktu terjaga kita di tempat kerja. Ini berarti, apa yang kita lakukan di tempat kerja menjadi bagian mendasar siapa diri kita. Bila kita memliki nilai pemberi dalam kehidupan pribadi kita, apa yang akan terlewati dalam kehidupan professional kita ? Dengan bergeser secara perlahan ke arah perilaku memberi, waktu terjaga kita mungkin akan ditandai oleh kesuksesan yang lebih besar, makna lebih kaya, dan dampak yang lebih langgeng.”

terima kasih NBA untuk mengajarkan bagaimana berkomunitas sebagai semangat untuk menjadi seorang pemberi.

baca juga :

1. Philip Johnson. The Constancy of Change yang diedit oleh Emmanuel Petit, kata pengantar oleh Robert A.M. Stern.
2. Give and Take yang ditulis oleh Adam Grant, OMAH mendapatkan buku ini dari satu mahasiswa arsitektur yang magang di kantor RAW, Steven Demarsega, thank you Steven.