Angan-Angan Arsitektur

CALL FOR PROJECT

OMAH berkerja sama dengan Majalah RUANG (www.membacaruang.com) mengundang para mahasiswa, arsitek, dan kalangan umum untuk menuangkan angan-angan mengenai arsitektur.

Angan-Angan Arsitektur #1: “Arsitektur itu begitu indah“

Arsitektur adalah cerminan kebudayaan, sejarah, sikap, perilaku, masyarakat ataupun individu di setiap jamannya. Dengan kepekaan elemen-elemen pembentuknya, arsitektur menghadirkan cahaya, suara, aroma, warna, dan tekstur; dimensi, proporsi, dan komposisi; keteraturan dan ketidakteraturan; serta etika dan estetika. Arsitektur tumbuh dan berevolusi bersama manusia. Arsitektur adalah jejak manusia, juga perwujudan angan-angan manusia yang berkreasi secara kreatif dalam cakupan terkecil sebuah ruang ataupun yang luas seperti terbentuknya sebuah kota, sebuah peradaban.

Seorang anak kecil adalah pribadi yang paling jenius dan pemberani. Mereka tidak takut untuk menuangkan kreatifitasnya ketika melihat matahari, sungai, sawah, ataupun kapal laut. Mereka lalu menuangkan kreatifitasnya apa adanya, mengekspresikan dalam nyanyian, tarian, lukisan tanpa takut pada batasan dunia luar. Namun, ketika ada kalanya setelah dewasa dan mengenal dunia luar dengan rasionalitas, ukuran, takaran kolektif, kejeniusan itu mulai tertutup, angan-angan pun menemui batasnya. Terkubur dan mati.

Dalam mengaktualisasikan angan – angannya, Italo Calvino menorehkan mimpinya akan kota-kota imajiner lewat sebuah tulisan. Zaha Hadid pun tekun menggoreskan angan-angannya lewat lukisan hingga akhirnya di tahun 1993, ia terwujud pertama kali menjadi sebuah pos pemadam kebakaran di Vitra, Jerman. Kecintaan akan menumbuhkan angan-angan yang diikuti dengan harapan, ekspresi itu bisa berupa esai, sketsa, ataupun ekspresi diri yang merupakan representasi karya seni.

Jika kita berbicara soal ‘visi’ arsitektur (dan kota), entah mengapa kita akan kembali kepada konsep utopia (tempat yang ideal di mana semuanya sempurna) dan lawannya, distopia (tempat yang penuh puing-puing idealisme yang gagal). Dalam sejarah arsitektur, banyak yang telah membayangkan ruang-ruang utopia. Seperti era 1960-1970an, saat Rem Koolhaas & Elia Zenghelis mengusulkan Exodus, Archigram dengan Walking City, Archizoom dengan No-Stop City, atau beberapa proposal grup Metabolist di Jepang. Di sisi koin yang lain, ruang-ruang distopia juga sering dimunculkan melalui literatur atau film-film layar lebar, sebut saja, Blade Runner, Total Recall, The Matrix, Elysium, dan Interstellar yang interpretasinya bisa begitu luas dengan berbagai cara mengekspresikan sebuah angan-angan.

Mereka semua berbicara tentang ruang-ruang yang belum pernah ada sebelumnya. Pernahkah kita sendiri meluangkan waktu, berkhayal sejenak mengenai ruang-ruang itu? Bukankah akan sangat menyenangkan! Mulailah dari angan-angan sederhana mengenai arsitektur dan kota. Ya, angan-angan!

Lalu, kita sebarkan angan-angan ini dengan berkata lantang:“Arsitektur itu begitu indah!”

Partisipasi

Mari menggambarkan angan-angan terhadap arsitektur (dan kota).Kami mengajak sahabat-sahabat untuk berpartisipasi dalam proyek Angan-Angan Arsitektur dengan premis “arsitektur itu begitu indah”. Partisipasi dapat berbentuk lukisan cat minyak, cat air, kolase seni, atau visualisasi digital dengan narasi sebanyak maksimum 500 kata yang menggambarkan angan-angan dan harapan terhadap arsitektur berdasarkan interpretasi bebas setiap individu.

Karya harap dikirimkan sebelum tanggal 20 Maret 2015
ke alamat :
OMAH, Jl. Pulau Ayer 2 no. 1 Taman Permata Buana, Jakarta 11610

Satu karya paling kreatif dengan konsep terbaik serta mengekspresikan kebaikan untuk masyarakat akan terpilih untuk mendapatkan hadiah sebesar Rp. 3.000.000,

Acara ini terbuka untuk umum dan tanpa batasan usia.

15 Karya yang terpilih akan dipublikasikan dalam website RUANG dan akan dipublikasikan dalam RUANG special edition: Angan-Angan Arsitektur.

Pertanyaan dan saran dapat dikirimkan ke: akudanruang@yahoo.com

Acara ini disponsori oleh tim mahasiswa berbakat dari UPH yang memenangkan juara ke-2 kompetisi terbuka Sinarmas untuk kategori master plan dengan Ketua tim: Evan Kriswandi dengan anggota tim Gideon Sutanto, Morris Nugroho, dan Maria Valencia. Sebagai doa untuk mereka agar lebih maju dalam menggapai angan-angan mereka.

Would you like to comment?

Leave a Reply